Sejarah Taksi Toyota di Indonesia

Kompas.com - 17/04/2014, 18:07 WIB
Prototipe Toyota Limo CNG Febri ArdaniPrototipe Toyota Limo CNG
|
EditorAris F. Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif – Sepanjang sejarah Toyota Motor Corporation (TMC), belum pernah ada model yang dijadikan taksi, kecuali Toyota Crown di Jepang. Namun semua itu berubah saat mantan Presdir Toyota Astra Motor (TAM), Johnny Darmawan (2002-2014), “menyulap” Soluna menjadi taksi di Indonesia, sampai akhirnya Indonesia dijadikan sebagai basis produksi.

Dalam buku “Kiprah Toyota Melayani Indonesia 2002-2014”, mengisahkan, keberanian TAM mulai bermain di segmen taksi diawali aksi “nekat”, sekaligus melihat peluang pasar besar dari menumpuknya stok Soluna di gudang dealer utama, Auto2000. Meski belum dapat lampu hijau dari TMC, Johnny meloloskan pesanan 100 unit Soluna yang bergulir dari perusahaan Gading Taksi.

Setelah itu Soluna mulai beredar dan langsung jadi hits, banyak perusahaan lain tergiur mesin bandel dan irit, yang dirasa cocok buat kepentingan taksi. Ditambah lagi, harga unit bekas masih tetap tinggi. “Itu sejarah Toyota mau masuk ke taksi,” ujar Johnny, mengenang masa itu.

Limo
Cerita berlanjut ke 2004. Melihat pasar taksi di Indonesia begitu besar, perlawanan TMC akhirnya luluh. Lantas keluarlah Limo, varian khusus Vios untuk menjadi taksi di Asia Tenggara. Model ini diplot menggantikan taksi Soluna. TMC memang terang-terang menolak Vios dijadikan kendaraan “kerja”, alasannya spesifikasi tidak di desain buat taksi, saat itu yang dijagokan adalah Corolla.

JokoTrisanyoto, Direktur Pemasaran TAM (2001-2013), mengatakan, gaya berkendara pengendara taksi di Jepang dan Indonesia berbeda. Di sana mobil jalannya "ajrut-ajrutan" karena banyak main gas sehingga butuh spesifikasi yang berbeda. “Kami harus meyakinkan Jepang, aturan taksi di Indonesia berbeda, harus di bawah 1.600 cc, harga juga harus tidak terlalu mahal,” katanya.

Tarik ulur terus terjadi sampai akhirnya Limo disetujui namun beberapa spesifikasi dikurangi. Ketentuannya, Limo merupakan varian lebih rendah, tidak memiliki kantung udara, tidak ada ABS dan menggunakan rem tromol pada setiap roda, serta bemper tanpa dicat.

“Coba naik taksi di Jepang, dijamin sakit perut . Sopir di Indonesia lebih canggih dibanding sopir Jepang. Di sana perlu spesifikasi khusus,” kelakar Joko.

Citra
Sejak Soluna, Johnny sudah memperkirakan citra buruk yang akan timbul pada kendaraan pribadi. Namun ketakutan itu bisa diantisipasi, yang terjadi justru sebaliknya. Di permukaan, sebagian besar masyarakat dan konsumen merasa tidak terlalu terganggu dengan image Vios menjadi taksi.

Ketika mobil pribadi digunakan menjadi kendaraan umum, malah menjadi nilai positif. Jodjana Jody, CEO Astra Credit Company yang juga pernah menjabat sebagai CEO Auto2000, mengatakan, strategi memperlakukan Vios sebagai taksi menonjolkan image performa, bandel, irit, dan garang.

Di sisi lain, kampanye iklan tidak lagi menonjolkan aspek fungsional, tetapi lebih emosional. “Bukti irit dan bandel sebagai taksi ini menunjang image Vios sebagai kendaraan pribadi, meski tidak langsung,” terang Jody.

Lokal
TAM merupakan pelopor taksi di luar Jepang, tapi produksinya masih dilakukan di Thailand. Hingga akhir 2013 seluruh unit Vios ataupun Limo berstatus CBU. Proses lobi panjang TAM akhirnya berbuah manis, pada Desember 2013 barulah kedua model itu diproduksi anak perusahaan TMC, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Dana Rp 2,5 triliun telah digelontorkan untuk memproduksi All-New Vios dan Limo di fasilitas produksi baru berkapasitas 120.000 unit per tahun di Karawang, Jabar. "Sebelumnya, kami mengimpor Vios dan Yaris dari Thailand. Namun sekarang kami menghentikan impor dan memproduksi keduanya secara lokal," jelas Masahiro Nonami, Presiden Direktur TMMIN di sela peresmian produksi perdana Vios, kepada KompasOtomotif, Desember lalu.

Tidak hanya kedua model itu, TMMIN juga memproduksi hatchback Yaris yang memiliki kesamaan platform dengan Vios. Rencana besar TMC kemudian terbaca, Indonesia dijadikan basis produksi Vios dan hatchback Yaris. Mulai Maret lalu, Indonesia telah mengekspor Vios, Yaris dan Yaris Sedan (rebadge Vios) ke sembilan negara di Timur Tengah. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X