Kompas.com - 06/10/2022, 19:31 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Saat musim penghujan, pengendara mobil dengan mudahnya akan menemukan jalan-jalan yang tergenang air. 

Tak semua genangan air bisa dilewati, dalam kondisi tertentu ada yang cukup tinggi sehingga membuat khawatir pengendara, apakah bisa dilewati atau putar balik mencari jalan lain.

Hal tersebut karena adanya pertimbangan soal risiko memaksakan mobil melintasi genangan air yang bisa berimbas negatif. 

Kerusakan mobil karena melintasi genangan air bisa sangat serius. Pemilik harus melakukan overhaul akibat masuknya air ke ruang bakar yang membuat piston macet atau biasa disebut water hammer

Lantas mengapa hal itu bisa terjadi? 

Baca juga: Buat Pengemudi Pemula, Jangan Pernah Belajar Nyetir Mobil Sendirian

Sejumlah pengendara berusaha menerobos genangan air di Jalan Stasiun, Medan. KOMPAS.com/DANIEL PEKUWALI Sejumlah pengendara berusaha menerobos genangan air di Jalan Stasiun, Medan.

Dealer Technical Support Dept. Head PT Toyota Astra Motor (TAM) Didi Ahadi menjelaskan, genangan air bisa terhisap intake dan bercampur pelumas mesin. Jika terlanjur parah, kompresi mesin di ruang bakar langsung berhenti mendadak. 

"Genangan air diatas 50 cm, intake sudah berpotensi menghisap air. Ditambah, cipratan mobil samping atau arah berlawanan. Air yang tersirkulasi ke ruang bakar, akan memberikan dorongan berlawanan, piston atau setang piston langsung bengkok," ucap Didi kepada Kompas.com, Kamis (6/10/2022). 

Fatal dan parah, blok mesin berpotensi pecah dan tak bisa diperbaiki. Tak ada cara selain harus ganti baru. 

Untuk itu, kata dia, pemilik mobil harus memperkirakan aman atau tidak dan berpikir ulang sebelum melewati genangan. 

Baca juga: Mengenal Bahaya Laten Aquaplaning Saat Berkendara di Musim Hujan

"Ruang bakar harus steril, dan tidak ada material asing kecuali bahan bakar dan udara. Apalagi air, sifatnya merusak dan menghancurkan," katanya. 

Kepala Bengkel Toyota Nasmoco Majapahit Semarang Bambang Sri Haryanto mengatakan,  banyak pemilik mobil salah kaprah menganggap air masuk lewat knalpot.

Ketinggian air tak diperkirakan sebelumnya, pengemudi hanya berpatokan mobil lainnya yang tetap aman melintas. Lantaran itu, pengemudi langsung nekat menerobos genangan air yang tinggi. 

 

Ilustrasi mobil menerjang banjirDicky Aditya Wijaya Ilustrasi mobil menerjang banjir

"Banyak yang belum paham dan beranggapan selama knalpot belum kemasukan air berarti aman, yang berbahaya itu, intake yang jadi jalan masuk air ke ruang bakar. Jadi biasanya, patokan aman adalah 3/4 ban," ucap Bambang. 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.