Kompas.com - 10/09/2022, 15:22 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan bus di Indonesia bisa dibilang sering terjadi. Misal seperti yang baru saja menimpa bus pariwisata Antarkota Antarprovinsi (AKAP) di Jalan Wonosobo Turut, simpang empat pasar Kertek, Sabtu (10/9/2022) dini hari.

Dilansir dari laman NTMC, Sabtu (10/9/2022), Kapolres Wonosobo AKBP Eko Novan menyebutkan, ada dua dugaan sementara kecelakaan itu bisa terjadi.

Dugaan pertama karena faktor sopir mengantuk, kemudian dugaan kedua dikarenakan rem blong. Sementara, sopir mengakui kendaraannya mengalami rem blong.

“Namun, dugaan itu masih kita lakukan penyelidikan dan analisis lebih lanjut,” ucap Eko.

Baca juga: Kecelakaan Maut Bus Pariwisata Terjadi Lagi, Ini Komentar KNKT

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kejadian seperti ini tidak terulang. Salah satunya dari waktu mengemudi sopir bus.

Kendaraan roda empat jenis minibus Isuzu dengan nomor polisi S 7413 JA mengalami kecelakaan tunggal hingga terbalik di tol Pandaan-Malang KM 83/A, Selasa (6/9/2022) sekitar pukul 10.00 WIB.Dok. Sat PJR Dirlantas Polda Jawa Timur. Kendaraan roda empat jenis minibus Isuzu dengan nomor polisi S 7413 JA mengalami kecelakaan tunggal hingga terbalik di tol Pandaan-Malang KM 83/A, Selasa (6/9/2022) sekitar pukul 10.00 WIB.

Bus di Indonesia biasanya memiliki trayek yang jauh, sehingga seharusnya ada dua pengemudi yang bertugas secara bergantian. Ketika salah satu pengemudi kelelahan, bisa bergantian dan perjalanan bisa dilanjutkan.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, sebelumnya Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperkirakan sekitar 80 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan kelelahan.

“Mobil barang, sopir angkutan (bus/truk) maupun pribadi, 80 persen kecelakaan disebabkan karena sopirnya lelah. Terlebih lagi disana (lokasi kecelakaan di Wonosobo) tidak ada rest area. Jika tidak ingin celaka, maka istirahat. Pahami resikonya dan hindari atau kendalikan,” ucap Djoko kepada Kompas.com, Minggu (10/9/2022).

Adapun dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 90 telah mengatur tentang waktu bagi para pengemudi, berikut isinya:

Baca juga: Tarif Bus AKAP dan AKDP di Semarang Mulai Naik

Seorang sopir dan kondektur terlelap di bagasi bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang berada di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (6/5/2022). KOMPAS.com/ Tatang Guritno Seorang sopir dan kondektur terlelap di bagasi bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang berada di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (6/5/2022).

(1) Setiap perusahaan Angkutan Umum wajib mematuhi dan memberlakukan ketentuan mengenai waktu kerja, waktu istirahat, dan pergantian Pengemudi Kendaraan Bermotor Umum
(2) Waktu kerja bagi Pengemudi Kendaraan Bermotor Umum paling lama delapan jam sehari
(3) Pengemudi Kendaraan Bermotor Umum setelah mengemudikan Kendaraan selama empat jam berturut-turut wajib beristirahat paling singkat setengah jam
(4) Dalam hal tertentu Pengemudi dapat dipekerjakan paling lama 12 jam sehari termasuk waktu istirahat selama satu) jam.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.