Begini Seharusnya Cara Sopir Mengendalikan Bus di Jalan Menurun

Kompas.com - 27/06/2022, 16:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan beruntun yang melibatkan 17 kendaraan terjadi di Tol Cipularang Km 92, Minggu (26/6/2022) malam.

Kepala Induk Patroli Jalan Raya (PJR) Ruas Tol Cipularang AKP Denny Catur mengatakan, kronologi kecelakaan bermula saat bus Laju Prima dengan pelat nomor B 7602 XA dari arah Bandung menuju Jakarta menabrak beberapa kendaraan di depannya.

Kendaraan bus Laju Prima diduga mengalami rem blong sehingga menabrak kendaran di depannya. Kecelakaan beruntun ini melibatkan beberapa kendaraan sekaligus karena memang saat kejadian situasi lalu lintas sedang padat.

Baca juga: Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, Kenapa Rem Bus Bisa Blong?

Sebanyak 17 kendaraan terlibat kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92, Minggu (26/6/2022) malam.Tangkapan layar KompasTV Sebanyak 17 kendaraan terlibat kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92, Minggu (26/6/2022) malam.

Menurut pengamatan Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan, lokasi kejadian merupakan jalan dengan turunan yang panjang, sekitar 4 Km.

"Dengan turunan sepanjang itu, akan berisiko bagi kendaraan besar untuk mengalami kegagalan pengereman," ucap Wildan kepada Kompas.com, Senin (27/6/2022).

Menurutnya, kecelakaan bus yang lajunya tidak bisa dikendalikan saat melewati turunan adalah karena pengemudi yang tidak paham teknik. Berbeda dengan mobil penumpang yang berukuran kecil, mengerem di turunan dengan bus berbeda caranya.

Baca juga: Pengemudi Mobil Menang Adu Argumen dengan Polisi Soal Razia

"Prosedur mengemudi yang benar adalah menggunakan engine brake dan exhaust brake. Jadi pengemudi tidak boleh melakukan pengereman dengan rem pedal atau service brake," ucap Wildan.

Khusus untuk kendaraan besar seperti bus dan truk saat mau melewati turunan yang panjang, pengemudi harus memindahkan gigi transmisi ke posisi rendah. Gunakan gigi rendah untuk mendapatkan torsi maksimal sehingga bisa menahan laju bus.

"Pada saat masuk di turunan dan sudah pakai gigi rendah, aktifkan exhaust brake atau skep. Kalau bus dilengkapi retarder, aktifkan juga. Demikian urutannya," kata Wildan.

Wildan menjelaskan, exhaust brake dan retarder memiliki tenaga yang besar untuk menahan laju bus di turunan saat torsi maksimal. Jadi posisi gigi harus rendah dan pastikan ada di rentang torsi maksimal sesuai data spesifikasi kendaraannya.

"Pengemudi harus tahu kendaraan yang dia bawa, torsi maksimalnya ada di rpm berapa dan ada di gigi berapa. Jadi torsi maksimal pada bus dan truk itu digunakan untuk nanjak dan turun," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.