Operator Bus AKAP Masih Keluhkan Solar Langka di Sumatera

Kompas.com - 27/12/2021, 17:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah Perusahaan Otobus (PO) yang melayani transportasi antar kota antar provinsi (AKAP) di Sumatera keluhkan kelangkaan solar yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Ketika dihubungi Kompas.com, Senin (27/12/2021), Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) dan Direktur Utama PO SAN Kurnia Lesani Adnan mengatakan, minimnya stok solar terjadi di berbagai SPBU di Sumatera.

"Betul di sebagian Sumatera itu kelangkaan solar terjadi. Setelah kami tanya ke berbagai operator SPBU, mereka selalu jawab 'menunggu pengiriman'. Kami perhatikan bukan telat pengiriman, tapi volumenya yang berkurang," ujar pria yang akrab disapa Sani ini.

Baca juga: Great Wall Motor Patenkan SUV Kotak Baru di Indonesia

"Kalau kebutuhan satu SPBU itu misalnya sehari 20 ton, yang disuplai hanya 10 ton atau 12 ton. Sehingga harusnya mereka 24 jam bisa melayani, saat ini hanya sekitar 15 jam sudah habis menunggu pengiriman lagi. Jadi sepertinya ada penurunan volume suplai," kata ia lebih lanjut.

Stok solar habis di berbagai SPBU biasanya mulai terjadi pada malam hingga pagi hari. Menjelang siang hari, solar baru disuplai kembali. Hal ini mengakibatkan antrean kendaraan niaga seperti bus dan truk kerap dijumpai.

Salah satu SPBU di ruas jalan trans Manado-Bitung. Antrean kendaraan yang mengisi BBM jenis solar di SPBU ini makin panjang, Rabu (17/11/2021). Sebagian badan jalan digunakan kendaraan yang mengantre solar.KOMPAS.com/SKIVO MARCELINO MANDEY Salah satu SPBU di ruas jalan trans Manado-Bitung. Antrean kendaraan yang mengisi BBM jenis solar di SPBU ini makin panjang, Rabu (17/11/2021). Sebagian badan jalan digunakan kendaraan yang mengantre solar.

"Umumnya terjadi malam hingga pagi. Menjelang siang baru ada lagi (solar). Sekitar jam 11.00 WIB baru datang lagi. Rata-rata seperti itu," ungkap Sani.

Sani menyebutkan, kelangkaan solar umumnya ditemukan di berbagai SPBU yang terletak di sepanjang jalur lintas timur, jalur lintas tengah, dan juga di Kota Bengkulu.

Baca juga: Jadi Buruan Kolektor, Ini Kelebihan dan Kekurangan Suzuki Satria 2 Tak

Ia turut menyorot salah satu faktor penyebab langkanya solar adalah masih banyak SPBU yang melayani pembeli dengan jerigen yang nantinya akan dijual kembali secara eceran.

Oleh sebab itu Sani mengatakan, perlu ada pengawasan lebih ketat dari pihak berwenang agar suplai BBM tidak bermasalah.

Pasalnya, kelangkaan solar di berbagai SPBU di Sumatera sangat berpengaruh terhadap manajemen waktu bagi banyak PO bus AKAP.

Terlebih Sani mengatakan, seringkali bus yang tengah membawa penumpang turut mengantre BBM, menyebabkan durasi perjalanan jadi lebih lama.

Ketika antrean solar dirasa terlalu lama dan merugikan penumpang, manajemen PO kadang terpaksa harus membeli solar non-subsidi agar bisa segera melanjutkan perjalanan. Namun hal tersebut tidak dapat terus-menerus dilakukan karena biaya operasional bisa membengkak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.