Peralihan ke Mobil Listrik Harus Dilakukan Bertahap, Bukan Radikal

Kompas.com - 16/10/2021, 08:42 WIB
Ilustrasi mobil listrik Toyota CARSCOOPS.comIlustrasi mobil listrik Toyota

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri otomotif nasional diklaim membutuhkan transisi peralihan secara bertahap sebelum menuju era kendaraan bermotor listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) di ranah pasar yang lebih besar.

Sebab, perpindahan dari kendaraan mesin pembakaran internal alias internal combustion engine (ICE) terlalu radikal karena mampu mengubah struktur industri otomotif, dari pemanufaktur, pemasok, sampai konsumen.

"Dari sisi konsumen misalkan, harga BEV saat ini masih terlalu mahal yaitu Rp 600 jutaan. Sedangkan daya beli masyarakat Indonesia kini berada di bawah Rp 300 juta karena PDB per kapita masyarakat ada di kisaran 4.000 dollar AS," kata Shodiq Wicaksono, Ketua V Gaikindo, Jumat (15/10/2021).

Baca juga: Peralihan Penggunaan Kendaraan Listrik Sebaiknya Berlangsung Alami

Stok mobil listrik global mencapai 10 juta unit pada tahun 2020, 41 persen lebih tinggi dari tahun 2019REUTERS via DW INDONESIA Stok mobil listrik global mencapai 10 juta unit pada tahun 2020, 41 persen lebih tinggi dari tahun 2019

Berdasarkan data asosiasi, per-September 2021, penjualan BEV 611 unit, hanya 0,1 persen dari total pasar. Sementara Plug-in Hybrid (PHEV) ialah 44 unit, diikuti penjualan mobil hybrid 1.737 unit atau 0,3 persen.

Tantangan lain, Shodiq melanjutkan, infrastruktur pengecasan baterai EV masih terbatas. Adapun dari sisi industri, mobil listrik yang ada di Indonesia juga masih diimpor secara utuh (CBU), belum dirakit di RI.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, industri komponen utama baterai masih dalam proses pembangunan diperkirakan baru mulai berproduksi pada tahun 2024. Kesiapan masyarakat atau konsumen untuk mengadopsi kendaraan dengan teknologi baru ini juga butuh proses, karena menyangkut budaya dan kebiasaan mengemudi dan memiliki kendaraan berbeda karakter.

“Nilai jual kembali BEV juga menjadi tantangan, selain harga baterai masih mahal, yakni 40-60 persen dari harga kendaraan listrik. Lalu, diperlukan juga integrasi dengan eco industry, RnD, serta industri komponen pendukung,” kata dia.

Baca juga: Sumber Daya Melimpah Tidak Jamin Indonesia Berhasil di Era Kendaraan Listrik

Pekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) untuk mulai beroperasi memproduksi mobil. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho Pekerja merakit mobil pick up di Pabrik Mobil Esemka, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik mobil PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) untuk mulai beroperasi memproduksi mobil. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

Seiring dengan itu, dia menyatakan, perlu adanya transisi teknologi untuk mengurangi dampak perubahan struktur industri sebelum terjadi industrialisasi komponen BEV, seperti baterai dan PCU/inverter.

Tujuannya agar BEV dapat berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan menyerap tenaga kerja baru.

Dari sisi industri komponen, perubahan dari ICE akan BEV berpotensi mendisrupsi 47 persen perusahaan. Pilihan mereka ada dua, tutup atau beralih membuat komponen-komponen BEV.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.