Jalan di Indonesia yang Peninggalan Belanda Disebut Kurang Safety

Kompas.com - 13/10/2021, 18:51 WIB
Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.(SHUTTERSTOCK) KOMPAS.com/MUHAMMAD NAUFALIlustrasi kecelakaan lalu lintas.(SHUTTERSTOCK)
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, salah satu faktor penting yang kerap menjadi penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas pada angkutan darat ialah geometrik jalan.

Pasalnya, sebagian besar jalan di Indonesia bukan ruas yang sengaja untuk dibangun melainkan peninggalan Belanda.

Sehingga, terdapat titik-titik yang kurang cocok dengan karakteristik berkendara kebanyakan orang dan tidak sesuai kaidah keselamatan.

"Berdasarkan investigasi faktor geometrik jalan kerap kali menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 1,3 juta orang meninggal dunia," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Selasa (12/10/2021).

Baca juga: Serius Riset Motor Listrik, Ini Biaya Pengembangan BL-SEV01

Pihak kepolisian saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kecelakaan lalu lintas yang membuat seorang pengemudi motor berinisial S meninggal di Jalan Daan Mogot, Batuceper, Kota Tangerang, Senin (19/4/2021) siang.(Istimewa/dokumentasi Polres Metro Tangerang Kota) Pihak kepolisian saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kecelakaan lalu lintas yang membuat seorang pengemudi motor berinisial S meninggal di Jalan Daan Mogot, Batuceper, Kota Tangerang, Senin (19/4/2021) siang.

"Jalan-jalan ini (buatan Belanda), dilebarkan dan diperkeras sampai saat ini sehingga tampak selalu bagus. Namun tidak terbangun melalui kaidah keselamatan," lanjutnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, infrastruktur jalan yang baik terdiri atas audit keselamatan jalan, inspeksi keselamatan jalan, analisa dampak keselamatan jalan, manajemen daerah rawan kecelakaan, serta laik fungsi jalan.

"Sangat mungkin jalan tersebut menyimpan banyak hazard yang bisa kapan saja menyebabkan orang celaka," ujar Soerjanto.

Adapun investigasi atau studi kasus pertama yang dilakukan oleh KNKT pada elemen penampang jalan melintang yang terjadi di Ruas Jalan Solo-Ngawi.

Kecelakaan diawali dengan konvoi antara sepeda motor membawa muatan barang, bus Safari Dharma Raya, bus Mira, bus Sumber Selamat, dan Toyota Innova dari arah Solo menuju Ngawi, tepatnya di kilometer 8-9.

Baca juga: Modifikasi Ganti Mesin Kendaraan, Jangan Abai Urus Legalitasnya

Kecelakaan lalu lintas beruntun dua unit mobil damkar di lampu merah perempatan Jalan Soekarno Hatta, Kota Pekanbaru, Riau, Senin (14/6/2021).KOMPAS.COM/IDON Kecelakaan lalu lintas beruntun dua unit mobil damkar di lampu merah perempatan Jalan Soekarno Hatta, Kota Pekanbaru, Riau, Senin (14/6/2021).

"Saat bus Mira mencoba mendahului sepeda motor dari arah berlawanan ada Bus Eka sehingga terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan tiga bus dan satu mobil penumpang," ungkapnya.

Soerjanto menambahkan, Jalan Arteri Primer Kelas II dengan lebar 7 meter 2/2 UD, bahu jalan 1,5 meter, dan kondisi jalan lurus.

Hazard pada kasus tersebut yaitu adanya desain kecepatan tinggi, mixed traffic atau gap kecepatan, tabrak depan dan tabrak belakang.

Belajar dari kasus itu pula, KNKT merekomendasikan perlu dilakukan survei inspeksi keselamatan jalan dan segregasi lalu lintas dengan kecepatan yang berbeda, juga manajemen traffic calming.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.