Fenomena Balap Liar Makin Meresahkan, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kompas.com - 24/08/2021, 18:02 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan yang disebabkan oleh aksi balap liar hingga melawan arah kerap terjadi di Jalan Tentara Pelajar Raya, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Kecelakaan lalu lintas terbaru melibatkan mobil Fortuner pelat dinas Polri, akibat melawan arah dari Stasiun Palmerah hingga menabrak mobil Mercedez Benz di dekat SPBU Tentara Pelajar.

Tidak hanya itu, kecelakaan yang menimpa pengendara motor juga kerap terjadi usia melakukan aktivitas balap liar. Biasanya pengendara motor tersebut malas untuk memutar arah, sehingga mereka mengambil jalan pintas untuk melawan arah dan berujung tabrakan dengan pengendara lainnya.

Dikutip dari Megapolitan Kompas.com, Saadi, Ketua RW 08 wilayah yang berada di sekitar Jalan Tentara Pelajar Raya mengatakan, balap liar di Jalan Tentara Pelajar hampir setiap hari terjadi.

Bahkan warga sekitar yang membubarkan justru malah mendapatkan ancaman, hingga perusakan berupa pelemparan batu ke rumah warga.

Baca juga: Balap Liar di Tentara Pelajar Mengganggu, Warga Diancam hingga Minta Pasang Garis Kejut

“Saya sudah berapa kali bubarin pas malem bareng warga dan polisi karena sudah mengganggu. Sudah diusir masih balik lagi mereka, kan enggak mungkin sampai subuh kita jagain,” ujar Saadi.

Saadi pun sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan untuk memasang garis kejut sebagai solusi balap liar motor yang sering terjadi di lingkungannya.

Balap liar di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusatinstagram.com/tmcpoldametro Balap liar di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta Pusat

Menanggapi hal ini, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, balap liar merupakan persoalan yang sudah baku sejak dulu. Menurut Jusri, fenomena seperti itu akan sangat sulit untuk dihilangkan.

Hal ini lantaran balap liar yang dilakukan di jalan raya memberikan sensasi yang berbeda dan biasanya memang dilakukan oleh tiga kelompok. Kegita kelompok tersebut akan selalu ada di lapisan masyarakat dan tidak bisa dihilangkan.

"Pertama remaja yang sedang mencari eksistensi, kedua mereka tidak paham akan pentingnya keselematan dan bahaya yang akan diciptakan, ketiga sekelompok orang yang memang mencintai tantangan,” ujar Jusri saat dihubungi Kompas.com, Selasa (24/8/2021).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.