Balapan Liar di Jalan Sulit Hilang Karena Tawarkan Sensasi Berbeda

Kompas.com - 01/08/2021, 16:21 WIB
Peserta tuan rumah World Wheelie Championship 2015, Gary Rothwell dari Liverpool, berhasil mempertahankan ban depan Suzuki Hayabusa di udara sampai kecepatan 318,455 kpj sejauh 1 km. Hasil itu mencengangkan tapi belum bisa mengahalahkan rekor sebelumnya, 320 kpj. gizmag.comPeserta tuan rumah World Wheelie Championship 2015, Gary Rothwell dari Liverpool, berhasil mempertahankan ban depan Suzuki Hayabusa di udara sampai kecepatan 318,455 kpj sejauh 1 km. Hasil itu mencengangkan tapi belum bisa mengahalahkan rekor sebelumnya, 320 kpj.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Lewat akun Instagram pribadi Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, meminta polisi menertibkan para pengendara motor gede yang sering ugal-ugalan.

Sahroni menulis bahwa tiap akhir pekan ruas jalan di Bintaro, Tangerang Selatan, sering dijadikan ajang kebut-kebutan.

"Miris dan sedih... Kejadian Balap Balapan Motor gede di Bintaro Loops menelan Korban ... motor gede lawan Motor kecil... puteran di shell bintaro para Pebalap Motor gede tarik tarikan dan setiap wekeend di Bintaro banyak sekali motor gede kebut2an... Mohon atensi Dirlantas Polda metro," tulisnya dikutip Minggu (1/8/2021).

Baca juga: Ahmad Sahroni Minta Moge yang Sering Balapan di Bintaro Ditertibkan

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, mengatakan, kebut-kebutan atau bahkan balap liar adalah masalah sosial yang selalu berulang.

Balap liar kata Jusri, tak cuma terjadi di Indonesia tapi di hampir di semua negara di dunia dari negara berkembang sampai negara maju.

Kebut-kebutan di jalan terjadi karena pelaku merasakan sensasi saat berjalan kencang. Sensasinya bahkan disebut berbeda jika dibandingkan balapan di sirkuit.

"Ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tapi dari negara miskin sampai negara maju, dan sampai sekarang balap liar ada. Di Amerika Serikat ada, di Jerman ada, karena balap liar ini menawarkan sensasi yang luar biasa dibandingkan di sirkuit," kata Jusri kepada Kompas.com belum lama ini.

Menurut Jusri, pebalap liar atau orang yang suka kebut-kebutan di jalan akan berhenti pada usia tertentu. Tapi kemudian digantikan generasi lain di bawahnya.

Baca juga: Jangan Norak, Pakai Lampu Sorot Jadi Lampu Rem

Saling Senggol Balapan Liar di Polewali RicuhKOMPAS.Com Saling Senggol Balapan Liar di Polewali Ricuh

"Para mantan pebalap liar itu yang melakukan balap liar ketika mereka sudah mulai tua di ambang 40 tahun ke atas tidak ada hobi otomotif sama sekali, tidak semua pebalap atau suporternya (yang suka nonton balap liar) suka dengan otomotif pada akhirnya," katanya.

Jusri mengatakan, karakter semacam ini ialah fenomena dari kelompok atau orang-orang yang sedang mencari jati diri.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.