Pelatihan Kondisi Darurat Minim Dilakukan Transportasi Darat

Kompas.com - 20/03/2021, 11:02 WIB
Kondisi bus yang terbakar di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Jumat (6/9/2019). KOMPAS.com/ ISTIMEWAKondisi bus yang terbakar di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Jumat (6/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kasus bus terbakar di Indonesia tergolong kerap terjadi. Mulanya bus terbakar bisa karena ada korsleting yang menciptakan percikan api lalu mulai membakar apa yang ada di kabin atau ruang mesin bus.

Pemerintah sendiri sebenarnya membuat peraturan soal bus baru yang wajib disertai Alat Pemadam Api Ringan (APAR). aturan wajib ada APAR di bus tertuang pada PP 55 Tahun 2012 yang berisi:

Untuk memenuhi syarat teknis setiap Mobil Bus harus dilengkapi dengan fasilitas tanggap darurat yang dapat berupa Alat Pemadang Api Ringan (APAR) untuk api awal.

Baca juga: Begini Ciri-ciri Kerusakan Fuel Pump pada Toyota Avanza

Kebakaran sebuah bus pariwisata di KM 49,850 A tol Jakarta-Cikampek, Minggu (13/1/2019) sekitar pukul 15.00 WIB, menyebabkan kemacetan sepanjang tujuh kolometer.KOMPAS.com/FARIDA FARHAN Kebakaran sebuah bus pariwisata di KM 49,850 A tol Jakarta-Cikampek, Minggu (13/1/2019) sekitar pukul 15.00 WIB, menyebabkan kemacetan sepanjang tujuh kolometer.

Walau sudah memiliki APAR di kabin bus, nampaknya kasus bus terbakar masih saja terjadi. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, ada perbedaan kondisi saat biasa dan panik, sehingga orang sulit menggunakan APAR yang sudah disediakan.

“Untuk penyemprot APAR itu, harus diputar baru bisa ditarik. Tapi orang dalam keadaan panik, sulit kalau sudah begini. Bus yang seharga Rp 2 miliar hilang karena hal yang sepele,” ucap Soerjanto dalam acara Accident Review Forum “Keselamatan Kelistrikan Mobil Bus”, Kamis (18/3/2021).

Soerjanto mengatakan, perlu diadakannya pelatihan untuk para pengemudi dan kru bus. Misalnya seperti pilot, setiap enam bulan mereka dites lagi pakai simulator, untuk diingatkan kembali pada kondisi-kondisi yang tidak normal.

Baca juga: Jangan Kaget, Beli Motor Listrik Ternyata Tanpa Buku Servis

Begitu juga yang dikatakan Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan. Penanganan Keadaan Darurat (PKD) untuk bus atau truk masih belum pernah dilaksanakan, berbeda dengan angkutan laut dan pesawat.

“Memang PKD ini masih terabaikan di jalan, sementara di penerbangan, mereka rutin setiap tahun melakukannya dan berpindah-pindah tidak hanya di satu lokasi, sehingga semuanya tahu,” kata Wildan.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X