Pakai Motor Listrik, Lebih Irit Rp 100.000 Dibanding Beli Bensin

Kompas.com - 10/03/2021, 17:11 WIB
Motor listrik Energica Motosaigon.vnMotor listrik Energica
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyatakan bahwa penggunaan sepeda motor listrik sebagai kendaraan harian memiliki banyak manfaat.

Salah satunya ialah mengenai biaya kepemilikan bulanan yang harus dikeluarkan untuk mengisi ulang bahan bakar hingga Rp 100.000. atau seperlima dari motor konvensional.

"Dari kajian kami, penggunaan motor listrik ada penghematan biaya bahan bakar mencapai Rp 100.000 per bulan. Sementara mobil listrik bisa 2-3 kali lipat dibandingkan pemakaian konvensionalnya," kata dia belum lama ini.

Baca juga: Kapan Mazda Jual Mobil Listrik Untuk Pasar Indonesia

Motor listrik Gesits                         Foto: Istimewa Motor listrik Gesits

Hal tersebut sesuai dengan klaim PT PLN (Persero) yang menyatakan kalau biaya pengisian daya listrik untuk mobil dan motor listrik lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional (berbahan bakar bensin).

Di samping itu, perawatan berkala kendaraan terkait juga bisa semakin tejrangkau karena terdapat berbagai bagian yang tak lagi dibutuhkan untuk diganti rutin seperti oli.

Hanya saja, memiliki kendaraan listrik saat ini punya tantangan tersendiri seperti ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang terbatas.

Oleh sebab itu, pemerintah bersama instansi terkait terus mendorong penciptaan fasilitas yang mendukung ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri. Tak terkecuali, pendirian industri baterai agar harganya semakin murah.

Pemerintah menargetkan pada 2025 mendatang penggunaan kendaraan listrik bisa menggantikan bahan bakar minyak (BBM) sekitar 37.000 barel setara minyak per hari (BOEPD).

Baca juga: Jangan Nyalakan Lampu Hazard di Persimpangan, Ini Alasannya

Ilustrasi SPBKLUKOMPAS.com/Ruly Ilustrasi SPBKLU
 

Pada 2030, diperkirakan Indonesia sudah tak lagi impor BBM karena dipicu peningkatan konsumsi minyak non fosil (biofuel) dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.

Dengan demikian, pengurangan impor BBM diperkirakan bisa mencapai 67,9 ribu barel per hari atau setara dengan penghematan devisa sebesar 1,6 miliar dolar AS pada 2030.

Selain itu, diperkirakan ada penghematan dari sisi subsidi BBM per tahun yang mencapai Rp 0,6 triliun. Sementara penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030 ditargetkan bisa mencapai 6,66 juta ton emisi Co2.

Adapun target pemerintah untuk populasi kendaraan listrik di periode sama ialah mencapai 15 juta unit, terdiri dari 13 juta unit sepeda motor dan 2 juta unit mobil listrik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.