Ada Relaksasi Pajak, Penjualan Mobil Bisa Kembali ke Sebelum Pandemi

Kompas.com - 22/02/2021, 09:02 WIB
Selama 9 hari, Telkomsel IIMS 2019 berhasil menarik 425.211 pengunjung KOMPAS.com/GilangSelama 9 hari, Telkomsel IIMS 2019 berhasil menarik 425.211 pengunjung

JAKARTA, KOMPAS.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) akan mempercepat penjualan mobil baru ke titik normal seperti sebelum terjadi pandemi.

Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Indef, mengatakan, tidak akan lama lagi pertumbuhan penjualan mobil mencapai titik normal dengan penjualan sekitar 1 juta per tahun atau di angka kurang lebih hampir 80.000 per bulan.

"Saya kira pertengahan tahun akan normal apalagi kalau ada (relaksasi) PPnBM," ucap Tauhid, dalam diskusi virtual (21/2/2021).

Baca juga: Honda Kenalkan HR-V Generasi Baru, Siap Mengaspal April 2021

Nissan Livina di IIMS 2019 Nissan Livina di IIMS 2019

Tauhid menjelaskan penjualan secara ritel memang sempat mengalami penurunan drastis pada awal pandemi, Maret, April dan Mei 2020. Namun secara perlahan meningkat untuk semua jenis kendaraan.

Ia juga mengatakan, pertumbuhan pembelian juga pulih dengan cepat. Bahkan, bisa lebih baik dari masa sebelum pandemi.

Untuk kendaraan 1.500 cc, pada Maret 2019 sampai Februari 2020 pertumbuhan bulanan mencapai 0,98 persen. Adapun setelah pandemi justru meningkat cukup tajam mencapai 5,36 persen.

Baca juga: Triton Salah Masuk Gigi dan Masuk Sungai, Kenali Kendaraan Sebelum Nyetir

Beragam kendaraan hadir di arena pameran IIMS 2019, Kamis (25/4/2019). Pameran tahunan ini diikuti 36 merek kendaraan dan akan berlangsung hingga 5 Mei mendatang.Kompas.com / Setyo Adi Beragam kendaraan hadir di arena pameran IIMS 2019, Kamis (25/4/2019). Pameran tahunan ini diikuti 36 merek kendaraan dan akan berlangsung hingga 5 Mei mendatang.

Hal yang sama juga terjadi pada ritel kendaraan di bawah 1.500 cc. Pertumbuhan pembelian sebelum pandemi 0,92 persen, sementara setelah pandemi 5,41 persen.

"Data ini menunjukkan bahwa konsumen sebenarnya punya kemampuan daya beli pada saat pandemi, tetapi dia menahan pembelian, artinya pada saat drop pandemi itu mereka punya daya beli tapi menahan pembelian bagi sebagian menengah ke atas," kata dia.

"Dari data ini kita lihat tampaknya growth-nya akan meningkat lagi, katakanlah setelah di Januari, Februari, bahkan belum lagi kalau ada kebijakan ini," ucap Tauhid.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X