Reaksi Kemenperin Terkait Pembatasan Impor Otomotif di Filipina

Kompas.com - 12/01/2021, 18:21 WIB
Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESMobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Otomotif merupakan salah satu sektor industri penting bagi Indonesia seiring dengan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Terlebih dalam beberapa waktu belakangan pertumbuhan industri ini mengalami pergerakan positif dan signifikan meskipun dalam kondisi pandemi virus corona alias Covid-19.

Karenanya, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan instansi terkait kerap mendorong industri otomotif agar tetap bisa bersaing dan bertumbuh positif baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca juga: Filipina Terapkan Pajak Impor Mobil, Indonesia Kena Imbas

Petugas memeriksa mobil Toyota Fortuner produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, yang akan diekspor melalui dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Petugas memeriksa mobil Toyota Fortuner produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, yang akan diekspor melalui dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

Mengenai perkembangan pemberlakuan safeguard dari Republik Filipina atas kendaraan penumpang serta kendaraan komersial ringan, pihak Kemenperin pun angkat suara.

Melalui keterangan tertulis, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa perkembangan ini membuktikan kalau daya saing industri otomotif Indonesia amat tinggi.

“Penerapan safeguard tersebut menunjukkan bahwa Industri otomotif Indonesia di atas Filipina,” ujar dia, Selasa (12/1/2021).

Buktinya, produksi kendaraan roda empat Indonesia pada tahun 2019 mencapai 1,286,848 unit. Capaian ini sangat jauh dibandingkan dengan produksi Filipina yang hanya mencapai 95,094 unit.

“Kemudian dalam catatan saya, setidaknya akan masuk investasi senilai lebih dari Rp 30 Triliun ke Indonesia untuk sektor otomotif. Ini luar biasa,” kata Agus.

Baca juga: Filipina Terapkan Proteksionisme, Bagaimana Ekspor Mobil Indonesia?

Ekspor Mobil ToyotaFoto: TMMIN Ekspor Mobil Toyota

Selain itu, industri otomotif global memiliki Global Value Chain yang tinggi sehingga membuat perbedaan harga antarnegara relatif rendah. Dalam hal ini, Indonesia diuntungkan karena saat ini telah mampu mengekspor produk otomotif ke lebih dari 80 negara dengan rata-rata 200.000 unit per tahun.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia makin terintegrasi dengan pasar dunia,” imbuhnya.

Terakhir, Agus menekankan bahwa Filipina harus membuktikan bahwa memang terjadi tekanan pada industri otomotif di Filipina akibat impor produk sejenis dari Tanah Air.

Sehingga, mereka perlu mengambil kebijakan penerapan safeguard bagi produk impor dari Indonesia.

“Ini disebabkan karena penerapan safeguard memiliki konsekuensi di WTO,” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X