Ada Perempuan Indonesia yang Ikut Rancang Teknologi Autopilot Tesla

Kompas.com - 03/12/2020, 19:43 WIB
Ilustrasi fitur swakemudi Tesla autoexpress.co.ukIlustrasi fitur swakemudi Tesla
|

JAKARTA, KOMPAS.comTesla memastikan fitur Full-Self-Driving Beta atau fitur swakemudi yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, akan segera meluncur dalam waktu dekat. Sebelumnya, teknologi kecerdasan buatan ini telah hadir secara terbatas bagi sejumlah pengguna.

Melalui fitur ini, mobil dapat melakukan manuver-manuver secara mandiri di jalan tanpa kita perlu menginjak rem dan gas. Pengemudi cukup duduk dan mengawasi jalannya mobil sampai ke tujuan.

Menariknya, 1 dari 6 Autopilot Software Engineer atau insinyur pengkat lunak autopilot yang bekerja untuk perusahaan Tesla di California, AS, adalah orang keturunan Indonesia bernama Moorissa Tjokro (26 tahun).

Baca juga: Masih Gagah, Harga 6 SUV Bekas Ini Cuma Rp 50 Jutaan

Moorisa Tjokro, salah satu orang Indonesia yang bekerja untuk perusahaan Tesla di California, AS.VOA Indonesia (dok: Moorisa) Moorisa Tjokro, salah satu orang Indonesia yang bekerja untuk perusahaan Tesla di California, AS.

Dilansir dari VOA Indonesia, Moorissa telah bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018. Sebelum menjadi Autopillot Software Engineer, ia ditunjuk Tesla sebagai Data Scientist, yang juga menangani perangkat lunak mobil.

“Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita,” ujar Moorissa.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan juga, gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in certain way,” katanya.

Baca juga: Cerita Takaaki Nakagami Curi Ilmu dari Marc Marquez

Tesla Model XIrish Times Tesla Model X

Dalam kesehariannya, Moorissa bertugas mengevaluasi perangkat lunak autopilot, serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, juga mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

Fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar Tesla yang ikut digarap oleh Moorissa, yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot.

Moorissa mengaku bahwa riset dan pengembangan fitur ini terbilang sulit dan memakan jam kerja yang begitu panjang. Khususnya untuk tim autopilot, bahkan mencapai 60-70 jam dalam seminggu.

Baca juga: Kenali Perbedaan SPBU Pertamina dengan Kode 31 dan 34 di Depan

Moorisa Tjokro saat mencoba mobil TeslaVOA Indonesia (dok: Moorisa) Moorisa Tjokro saat mencoba mobil Tesla

“Karena kita pengin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuman di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,” tuturnya.

Karena pekerjaannya yang berprofesi sebagai insinyur perangkat lunak, Moorissa dibekali mobil Tesla yang bisa ia gunakan sehari-hari.

“Karena kerjanya dengan mobil, juga dikasih perk untuk drive mobilnya juga kemana-mana, biar bisa di-testing,” jelas Moorissa.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X