Penyakit Kronis Angkot, Berhenti dan Belok Semaunya

Kompas.com - 01/12/2020, 19:45 WIB
Sejumlah mahasiswa dari Universitas Gunadarma, Depok bergerak dari Lenteng Agung menuju Istana Negara untuk berunjuk rasa. KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJOSejumlah mahasiswa dari Universitas Gunadarma, Depok bergerak dari Lenteng Agung menuju Istana Negara untuk berunjuk rasa.

JAKARTA, KOMPAS.comMengemudi di perkotaan akan sering menemui berbagai tipe pengguna jalan. Salah satunya harus menghadapi pengemudi angkutan perkotaan ( angkot). Sering kali angkot melakukan manuver tiba-tiba dan membuat jalanan macet.

Bagi pengemudi mobil, berada dekat angkot bisa menjadi hal yang menjengkelkan. Jika kita tidak waspada, bisa saja menabrak mereka atau tiba-tiba mereka masuk ke lajur kita.

Lalu bagaimana cara aman agar terhindar konflik dengan pengemudi angkot?

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana mengatakan, penyakit dari angkot adalah berhenti mendadak tidak pada tempatnya dan manuver seenaknya. Mereka tetap mengecek spion, namun hanya untuk melihat calon penumpang.

Baca juga: Setelah MotoGP, Tanggal WorldSBK 2021 di Sirkuit Mandalika Muncul

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dash Cam Owners Indonesia (@dashcam_owners_indonesia)

 

“Jangan salah, mereka tetap cek spion, namun tidak punya etika bermanuver. Mereka selalu cek spion untuk mencari penumpang, hanya saja ketika manuver, jarang menyalakan lampu sein,” ucap Sony kepada Kompas.com, Selasa (1/12/2020).

Mereka tidak paham kalau mau mengambil lajur orang harus kasih lampu sein untuk meminta izin dan bermanuver saat sudah aman. Pengemudi angkot mengabaikan lajur yang ada di jalan, yang penting mereka mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.

“Kalau diklakson atau dimarahi juga percuma, dia akan fokus ke penumpang, bahkan pura-pura tidak tahu,” kata Sony.

Baca juga: Marquez Punya Banyak Saingan di MotoGP 2021

Selain itu, pengemudi angkot juga sering melakukan manuver yang ekstrem. Jika tidak, Sony mengatakan, dia takut penumpang tersebut diambil oleh angkot lainnya.

“Jangan pernah dekat-dekat dengan angkot. Mereka sering agresif dalam berkendara saat menjemput atau menurunkan penumpang,” kata dia.

Sony menyarankan, bagi pengemudi yang dekat angkot, siap-siap mengerem. Selain itu beri jarak aman jika tidak mau kecelakaan. Perlu diingat, kemampuan mereka dalam memberi ganti rugi tidak banyak, alias ala kadarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X