Jalan Tol Meningkat, Celah Buat Bisnis Pembayaran Transportasi

Kompas.com - 21/11/2020, 17:10 WIB
Gerbang Tol (GT) Cimanggis 4. Dok. PT Jasamarga Metropolitan TollroadGerbang Tol (GT) Cimanggis 4.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring dengan tingginya pembangunan jalan tol di Tanah Air, ada prospek bisnis sistem pembayaran nasional yang menjanjikan. Setiap tahunnya, bisnis ini rata-rata tumbuh 20 persen.

Hingga akhir 2019, panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.093 kilometer (km), naik tajam dari 2014 sepanjang 795 km. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan panjang jalan tol mencapai 18.000 km, sementara pada 2020-2024, akan dibangun tol baru sepanjang 2.500 km.

Dengan adanya hal itu, diiprediksi nilai pengadaan sistem pembayaran transportasi jalan tol mencapai Rp 4 triliun, selain itu ada potensi dari penggantian perangkan senilai Rp 2 triliun.

Tri Bayu Wicaksono, Direktur Utama PT Delameta Bilano, perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset dalam negeri mengatakan, pembangunan jalan tol terus bergulir di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Pengusaha Truk Protes Kenaikan Tarif Terintegrasi Tol Jakarta-Cikampek

 

Berdasarkan hitungan Delameta, tol yang sudah masuk tahap persiapan dan sudah digambar mencapai 5.000 km, di mana yang sudah dibangun 2.000 km. Sedangkan sisanya masih dalam tahap perencanaan.

"Melihat data itu, potensi bisnis sistem pembayaran transportasi sangat besar. Apalagi, ada bisnis replacement, karena biasanya perangkat harus diganti setelah masa pakai lima tahun," kata Bayu dalam diskusi virtual Bisnis Sistem Transportasi di Tengah Pandemi, Sabtu (21/11/2020).

Ilustrasi penggunaan e-toll Mandiri di gerbang tolKompasiana Ilustrasi penggunaan e-toll Mandiri di gerbang tol

Menurut Bayu, bisnis sistem pembayaran transportasi menggeliat sejak mandatori penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Hal tersebut mendorong operator mencari sistem pembayaran yang dapat mendukung operasional.

Delameta, menurut Bayu menawarkan sistem pembayaran jalan tol yang lengkap, mulai dari automatic vehicle classification (AVC), loop vehicle sensor, collecting terminal machine, infra merah, palang atau lane barrier system, electronic toll collection (ETC), CCTV, variable message sign (VMS), hingga plate recognition.

Perangkat sistem yang ditawarkan Delameta juga sudah diaplikasi di 21 ruas tol yang ada, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan-Samarinda. Menariknya lagi hampir keseluruhan perangkat tersebut diproduksi lokal di pabrik Pulogadung, Jakarta.

Menurut dia, sistem pembayaran transportasi akan naik lebih kencang jika sistem fee base income diterapkan. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu berinvestasi lagi di sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. Operator tinggal membagi hasil operasional tol dengan perusahaan sistem pembayaran.

Baca juga: Lonjakan Tarif Tol Jakarta-Cikampek Diklaim Tanpa Beban

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.