Kemenperin Kejar Investasi Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik

Kompas.com - 09/11/2020, 18:41 WIB
Ilustrasi proses charge mobil listrik Hyundai Ioniq KOMPAS.com/RulyIlustrasi proses charge mobil listrik Hyundai Ioniq
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan kendaraan berbasis listrik untuk menekan emisi karbon. Tak hanya soal kendaraannya, namun juga dari segi dipengembangan baterai listrik.

Direktur Industri Logam Ditjen ILMATE Kemenperin Budi Susanto menjelaskan, pihaknya terus mendorong investasi di sektor pengembangan baterai kendaraan listrik.

Investasi tersebut merupakan langkah strategis guna membantu mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam sektor industri kendaraan listrik.

"Kemampuan penguasaan tenologi baterai dan keuntungan bahwa Indonesia memiliki sumber bahan baku penyusun baterai lhitium seperti nikel, cobalt, mangan, alumunium, dan ferrum yang cukup melimpah merupakan kunci utama Indonesia untuk menciptakan keunggulan yang kompetitif dibandingkan dengan negara-negara produsen kendaraan listrik lainnya," ucap Budi dalam siaran resmi Kemenperin, Senin (9/11/2020).

Baca juga: Biar Seragam, Baterai Motor Listrik Wajib SNI

Baterai Mobil Listrik Nissan Leaf Foto: Wikipedia/H.Kashioka Baterai Mobil Listrik Nissan Leaf

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi,dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menyatakan, usia baterai listrik bisa mencapai 10-15 tahun.

Dengan demikian, 10 tahun ke depan perlu dipersiapkan fasilitas daur ulang guna untuk memperoleh nilai tambah baru, baik berupa material di dalamnya seperti lithium, nikel, cobalt, mangan, dan copper.

Selain itu, penguasaan teknologi recycling juga perlu dipikirkan dari sekarang seperti hydrometalurgi dan juga penggunaan teknologi AI serta robotik, termasuk skill baru dalam pemrosesan baterai listrik.

Baterai listrik terdiri dari cell, modul, dan pack yang masing-masing diikat kuat oleh perekat yang membutuhkan keahlian khusus mengingat sebagai keselamatan dan perlakuan dari baterai, berbeda dengan perlakuan pada baterai non-lithium.

Baca juga: Ridwan Kamil Kepincut Hyundai Ioniq, Bakal Jadi Kendaraan Dinas Pemprov Jabar

"Setiap cell atau modul, dan pack berbeda bentuk, ada yang silinder atau prismatik. Semuanya berbeda tipe di setiap mobil listrik," kata Taufiek.

Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang amanelectrec.co Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman

Dengan demikian mengingat kompleksitas proses daur ulang baterai listrik, diperlukan penggunaan teknologi modern dalam proses tersebut. Selain itu, proses daur ulang dapat meningkatkan pemanfaatan material, baik lithium dan mangan yang berupa karbonat dan nikel serta cobalt berupa sulfat yang dapat diperoleh dengan maksimal sehingga proses circular ekonominya mencapai titik optimal.

"Namun demikian, yang terpenting adalah mobil listrik dan baterai listrik dapat diproduksi di dalam negeri. Investasi ke arah sana tentunya dipersiapkan untuk membuka tenaga kerja dengan skill yang baru dan meningkatkan hilirisasi sumber daya alam nasional berupa nikel, cobalt, maupun mangan," ucap Taufiek.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X