Hindari Tabrakan Beruntun dengan Jurus 3 Detik

Kompas.com - 19/05/2020, 09:42 WIB
Rendahnya jarak pandang di jalan tol akibat asap tebal menyebabkan belasa mobil terlibat tabrakan beruntun di New Delhi, India. New York PostRendahnya jarak pandang di jalan tol akibat asap tebal menyebabkan belasa mobil terlibat tabrakan beruntun di New Delhi, India.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, satu-satunya cara yang bisa dilakukan pengemudi adalah coba menghindarinya. Bicara tabrakan beruntun, ada jurus 3 detik yang efektif bisa menghindari terjadinya kecelakaan ini di jalan.

Training Direction Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, mengukur jarak antar-kendaraan memang menggunakan satuan detik, bukan metrik.

“Di luar negeri tidak ada dan tidak dipelajari menghitung satuan jarak dengan meter, karena akan sulit dan selalu berubah-ubah. Semuanya dihitung dengan satuan detik,” ujar Jusri kepada Kompas.com, Senin (2/3/2020).

Berdasarkan teori Defensive Driving, jarak aman antar-kendaraan baik di depan maupun di belakang adalah 3 detik. Lantas, bagaimana cara mengukurnya?

Baca juga: Efek Mesin Mobil bila Minum Bensin Eceran

Cara ini bisa dilakukan dengan mengikuti kendaraan yang searah dan pastikan kecepatan kendaraan kita sama dengan kendaraan yang ada di depan.

Ilustrasi berkendara di tol trans jawadok.HPM Ilustrasi berkendara di tol trans jawa

“Kemudian, cari obyek statis untuk tolok ukur yang ada di kiri atau kanan jalan, bisa berupa pohon, jembatan, atau patokan kilometer jika sedang berada di jalan tol,” ujar Jusri.

Setelah menentukan tolok ukur dan kendaraan di depan sudah melewati batas tersebut, maka perhitungan mulai dilakukan.

Baca juga: Renault Mau Bawa SUV Kiger ke Indonesia

“Perhitungan dilakukan dengan cara menyebut satu dan satu, satu dan dua, satu dan tiga, sampai kendaraan kita tepat melewati tolok ukur tersebut. Ketika hasil hitungan jarak dengan obyek statis yang sudah ditentukan sesuai, berarti kendaraan sudah berada di jarak aman,” kata Jusri.

Jusri melanjutkan, penyebutan detik sengaja dibuat dengan "satu dan datu, satu dan dua, dan seterusnya" agar hasil yang didapatkan lebih akurat.

“Kemampuan persepsi manusia dalam melihat bahaya itu memerlukan waktu lebih kurang tiga detik. Mulai dari mata melihat, otak memproses, sampai menginjak rem itu waktunya lebih kurang satu detik. Sedangkan reaksi mekanis berjalan saat rem diinjak, buster bekerja dorong minyak rem sampai kaliper, memiliki waktu lebih kurang setengah detik,” katanya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X