PSBB Bikin Kualitas Udara di Jakarta Membaik hingga 35 Persen

Kompas.com - 02/05/2020, 09:22 WIB
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, sumber pencemaran udara terbesar berasal dari transportasi darat. DOK. Humas Pemerintah Provinsi DKI JakartaBerdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, sumber pencemaran udara terbesar berasal dari transportasi darat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Aturan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) yang diterapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sejak tiga minggu belakangan telah berdampak baik bagi kualitas udara. Tingkat polusi menurun signifikan lantaran semakin berkurangnya aktivitas warga.

Seperti diketahui, sebelumnya Pemprov juga gencar mengimbau untuk bekerja dari rumah ( work from home), berkegiatan di rumah, dan melakukan pembatasan waktu operasional angkutan umum.

Dari pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Konsentrasi Maksimum PM2,5 menurun sekitar 0,02 persen sampai 35,07 persen di 5 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), khususnya saat pemberlakuan PSBB.

Baca juga: Ekonomi Terdampak, Kemenhub Bahas Lagi Aturan Larangan Mudik

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan disinfektan di sepanjang jalan protokol dari monas sampai bunderan senayan di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Penyemprotan disinfektan dalam rangka mitigasi pencegahan virus corona (COVID-19).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) menyemprotkan disinfektan di sepanjang jalan protokol dari monas sampai bunderan senayan di Jakarta, Selasa (31/3/2020). Penyemprotan disinfektan dalam rangka mitigasi pencegahan virus corona (COVID-19).

Secara lebih rinci, penurunan zat polutan dari tanggal 13 April sampai 19 April 2020 di SPKU Bundaran HI sebesar 0,02 persen.

Kemudian, di SPKU Jagakarsa sebanyak 5,74 persen, di Kebon Jeruk 25,75 persen, Kelapa Gading 30,89 persen, dan yang penurunan paling besar ada di SPKU Lubang Buaya 35,07 persen.

“Dengan semakin berkurangnya aktivitas, akan semakin berkurang juga yang dikeluarkan sehingga kualitas udara akan semakin membaik,” ucap Kepala DLH DKI Jakarta Andono Warih, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2020).

Baca juga: Mengapa Banyak Bus dan Truk yang Menepi di Pinggir Jalan?

Kendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Kendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

Andono menambahkan, selama PSBB, semua SPKU telah memenuhi Baku Mutu Harian (<65ug/m3).

Meski begitu, menurut dia, peningkatan kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh sumber pencemar udaranya.

Namun, juga faktor lain yang sangat berpengaruh besar yaitu meteorologi, seperti suhu, kecepatan angin, kelembapan udara, dan curah hujan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X