Mengapa Banyak Bus dan Truk yang Menepi di Pinggir Jalan?

Kompas.com - 01/05/2020, 03:42 WIB
Ratusan mobil truk berhenti menunggu selesainya pembatasan jam operasional truk di jalan raya Parung Panjang menuju Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (10/01/2019). Pemerintah Kabupaten Tangerang membatasi jam operasional kendaraan jenis truk golongan 2 hingga truk golongan 5 yang membawa muatan material tanah dan pasir. Jenis-jenis kendaraan tersebut baru dapat melintas pukul 22.00-05.00 WIB. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIRatusan mobil truk berhenti menunggu selesainya pembatasan jam operasional truk di jalan raya Parung Panjang menuju Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (10/01/2019). Pemerintah Kabupaten Tangerang membatasi jam operasional kendaraan jenis truk golongan 2 hingga truk golongan 5 yang membawa muatan material tanah dan pasir. Jenis-jenis kendaraan tersebut baru dapat melintas pukul 22.00-05.00 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com – Jika dalam perjalanan ke luar kota, kerap terlihat banyak truk atau bus yang menepi di pinggir jalan umum atau tol. Kemungkinan terbesar ada dua penyebab, memang ada perbaikan atau upaya mendinginkan ban supaya perjalanan tidak terganggu.

Jadi, ban untuk kendaraan niaga seperti truk atau bus, ada dua model konstruksi yang tersedia, yaitu bias dan radial. Ban bias memiliki konstruksi yang kokoh, namun lebih cepat panas dan butuh waktu untuk pendinginan ketika dalam perjalanan.

Begitu juga dengan ban radial, walaupun memiliki konstruksi yang lebih lentur dan tidak cepat panas, tetap butuh istirahat agar bannya dingin. Jika ban tidak beristirahat dan overheat, pasti akan mengalami kembung lalu meledak.

Bambang Widjanarko, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dan independent tire analyst, mengatakan, semua jenis ban butuh istirahat, termasuk ban radial.

Baca juga: Pakai Mesin Turbo, Ini Dia Suzuki Jimny Paling Bertenaga di Dunia

bus akapKompas.com/Fathan Radityasani bus akap

“Sama seperti ban bias, ban radial juga butuh istirahat. Hanya saja enggak perlu terlalu sering seperti ban bias,” ucap Bambang kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2020).

Bambang mencontohkan, jika menggunakan ban bias pada perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya, perlu melakukan istirahat sekitar enam sampai tujuh kali. Sedangkan untuk ban radial, cukup tiga kali saja.

“Itu hanya contoh, karena ban yang panas disebabkan juga oleh besarnya muatan dan kondisi jalan yang dilewati,” kata Bambang.

Baca juga: Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengemudi Mobil Transmisi Manual

Bambang menjelaskan lebih lanjut, ban yang digunakan untuk berjalan, pasti akan panas. Penyebab panasnya ban yang pertama yaitu akibat gesekan dengan permukaan jalan. Kedua, panas dari tromol rem yang menjalar melalui pelek ke ban. Ketiga, akibat defleksi ban karena beban muatan.

“Kalau bebannya lebih berat, lalu melewati jalan yang naik turun atau berkelok-kelok, ban pasti lebih panas, jadi butuh lebih banyak istirahat,” ujar Bambang.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X