Pandemi Bikin 6.328 Pekerja Bus AKAP dan Pariwisata Kena PHK

Kompas.com - 28/04/2020, 03:02 WIB
Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMANSejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dampak pandemi virus corona ( Covid-19) di Indonesia menghantam sektor transportasi umum, Ribuan pekerja di sektor transportasi darat khususnya bus antarkota antara provinsi (AKAP) dan bus pariwisata sudah kena pemutusan hubungan kerja alias PHK.

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno, PHK sudah mulai dilakukan perusahaan bus AKAP serta bus pariwisata sejak wabah asal Wuhan, China, tersebut diumumkan menyerang Tanah Air.

"Jumlah pengemudi dan asisten pengemudi bus pariwisata sebanyak 2.428 orang. Sedangkan tenaga kerja sebagai pengemudi, kapten dan asisten kapten bus AKAP 3.900 orang. Keseluruhan ada 6.328 tenaga kerja transpartasi umum, baik AKAP dan bus Pariwisata yang di PHK," ucap Djoko dalam keterangannya kepada Kompas.com, Senin (27/4/2020).

Baca juga: Ini Skema Relaksasi Pemerintah bagi Sektor Transportasi Umum

Menurut Djoko, PHK dilakukan pengusaha lantaran bisnis jasa angkutan yang setiap harinya makin menurun signifikan. Seperti diketahui, pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan sebagai upaya untuk menekan penyebaran Covid-19.

Dampak dari virus corona di Tanjungpinang merambah kepada jasa Bus Pariwisata, dimana saat ini ada 80 bus milik PT Bintan Paradis Transportasi tak berjalan atau hanya nongkrong di pool.KOMPAS.COM/HADI MAULANA Dampak dari virus corona di Tanjungpinang merambah kepada jasa Bus Pariwisata, dimana saat ini ada 80 bus milik PT Bintan Paradis Transportasi tak berjalan atau hanya nongkrong di pool.

Salah satu dari aturan tersebut memang berimbas langsung pada sektor transportasi umum. Seperti pembatasan 50 persen jumlah penumpang, pembatasan jam operasional, penghentian beberapa trayek, sampai adanya larangan mudik Lebaran yang membuat pengusaha bus AKAP terpaksa mengandakan unit-untinya.

Djoko menyampaikan berdasarkan data Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) saat ini ada 346 perusahnaan bus AKAP yang terdaftar, 56 angkutan travel atau antar jemput antar provinsi (AJAP), dan 1.112 perusahaan bus pariwisata.

Baca juga: Mengenal Istilah Kandang Macan, Tempat Istirahat Sopir Bus AKAP

Pada masa pandemi dari Februari hingga Maret, untuk angkutan jalan sendiri mengalami penurunan drastis. Berdasarkan data di terminal penumpang bus seluruh Indonesia, penurunan keberangkatan sebesar 17,24 persen dan kedatangan 22.04 persen.\

Polisi menghalau mobil bus yang membawa penumpang di jalan tol Jakarta-Cikampek untuk keluar ke Gerbang tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (24/4/2020). Larangan mudik mulai diberlakukan 24 April 2020 pukul 00.00 WIB. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek. Pemeriksaan dan penyekatan kendaraan tersebut akan dilakukan di 18 titik pos pengamanan terpadu dan pos-pos check point di jalur tikus dan perbatasan.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Polisi menghalau mobil bus yang membawa penumpang di jalan tol Jakarta-Cikampek untuk keluar ke Gerbang tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (24/4/2020). Larangan mudik mulai diberlakukan 24 April 2020 pukul 00.00 WIB. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek. Pemeriksaan dan penyekatan kendaraan tersebut akan dilakukan di 18 titik pos pengamanan terpadu dan pos-pos check point di jalur tikus dan perbatasan.

Jumlah tersebut terus terjun usai diumumkannya kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020. Bila dibandingkan Februari jumlah penyusutannya mencapai 18,35 persen atau 246.785 unit.

"Sedangkan untuk jumlah penumpang juga turun di Maret bila dibandingkan dengan Februari, yakni sebesar 1.885.943 orang atau mencapai 19.57 persen," ujar Djoko.

Baca juga: Akses Keluar Masuk Jabodetabek untuk Kendaraan Pribadi Ditutup 7 Mei 2020

suasana terminal Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (15/5/2019)KOMPAS.com/JIMMY RAMADHAN AZHARI suasana terminal Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (15/5/2019)

Dampak dari sektor transportasi yang terhenti, menurut Djoko juga menimbulkan efek domino ke sektor lain. Contoh pada bus AKAP, memberikan imbas pada sejumlah rumah makan yang juga tutup akibat sepi pengunjung lantaran bus-bus yang tidak singgah.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X