Impor Mobil Listrik Bisa Mencederai Ekspor

Kompas.com - 25/04/2019, 10:01 WIB
Armada taksi listrik Blue Bird menggunakan Tesla Model S 75D Facebook / ZulfikriArmada taksi listrik Blue Bird menggunakan Tesla Model S 75D

Denpasar, KOMPAS.com – Langkah PT Blue Bird Group Tbk mengimpor battery electric vehicle (BEV) alias mobil listrik untuk dijadikan taksi di Jakarta (22/4/2019), dianggap kemajuan signifikan terhadap bisnis transportasi. Namun, seluruh mobil yang digunakan diimpor utuh (completely built up/ CBU) langsung dari negara lain.

Dirjen Industri Logam Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMTE) Kementerian Perindustrian, Harjanto mengatakan, hadirnya mobil listrik sebagai alat transportasi umum, dalam hal ini taksi, merupakan kemajuan tersendiri. Tetapi, pasokan mobil listrik ini juga menunjukkan kalau teknologi BEV masih relatif mahal.

“Jadi waktu launching Blue Bird itu saya hadir, rencananya mau impor 200 unit mobil listrik (BYD) dari negara lain (China) dan 50 unit dari Tesla (Amerika Serikat). Harganya masih sangat mahal, ke depan berharap ada cost and benefit, bagaimana bisa dirakit lokal,” ucap Harjanto di Denpasar (23/4/2019),

Untuk tahap awal, Blue Bird memasok 25 unit BYD e6 dan 4 Tesla Model X 75D. Jumlah akan terus ditambah sesuai kuota yang telah diajukan ke Kementerian Perindustrian.

Baca juga: Tesla Model S Jadi Taksi Blue Bird

Armada taksi Bluebird bertenaga listrik BYD e6 dan Tesla model X 75DKompas.com/Setyo Adi Armada taksi Bluebird bertenaga listrik BYD e6 dan Tesla model X 75D

Harjanto menjelaskan, setiap satu unit BYD e6 yang dibeli dari China, nilainya sekitar Rp 700 jutaan. Sedangkan, setiap satu unit Tesla Model X 75D harganya Rp 1,2 miliar. Jika dikalkulasi maka jika semuanya terealisasi, nilai impor yang tercatat dalam neraca perdagangan negara adalah Rp 140 miliar (BYD e6) ditambah Rp 60 miliar (Tesla Model X).

“Nilai impornya begitu besar, setahu saja Toyota mencoba ekspor CBU mobil dari Indonesia saja paling nilainya 10.000-12.000 dolar US (Rp 140 juta-170 juta). Memang mobil listrik tidak menggunakan bensin, tapi jangan sampai nanti impor BBM turun, malah manufaktur melesat, cuma subtitusi saja,” ucap Harjanto.

Untuk itu, kata Harjanto, jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar mobil listrik impor saja. Untuk menstimulasi investasi di sektor mobil listrik, pemerintah tengah menyiapkan insentif berupa Tax Holiday untuk tiga komponen utama mobil listrik, yakni baterai, unit pengatur (control unit), dan motor elektrik.

“Kami juga menyiapkan Tax Decuction Reduction, besarannya 200 persen untuk pelatihan SDM dan 300 persen untuk R and D (riset dan pengembangan). Jadi diharapkan industri mobil listrik ini juga ikut berkembang, karena total ada 2 juta orang yang terlibat di dalam industri otomotif, belum termasuk servis,” kata Harjanto.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X