Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/02/2019, 15:30 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacara sepeda motor wajib menggunakan sistem pengereman anti-lock braking system (ABS) sempat ramai dibahas pada akhir 2018. Salah satu alasan, untuk meningkatkan keamanan ketik berkendara di jalan raya.

Tentunya wacara itu disambut dengan beragam nada, ada yang menyikapi positif, dan tentunya negatif. Namun, tetap disertai oleh alasan dan argumen dari masing-masing pihak.

Kawasaki Motor Indonesia (KMI) menjadi salah satu produsen otomotif yang akan selalu mengikuti aturan pemerintah, apabila mewajibkan motor pakai ABS. Tetapi, menurut Line Head Sales and Production Department Marketing and Sales Division KMI Sucipto Wijono, hanya cocok untuk motor 250 cc ke atas saja.

"Pertimbangannya ke bobot, dan akselerasi dari motor itu sendiri. Kalau di bawah 250 cc saya rasa tidak perlu," kata Sucipto belum lama ini di kawasan Jakarta Selatan.

Baca juga: Urgensi ABS di Sepeda Motor, Benarkah Bisa Kurangi Angka Kecelakaan?

Sucipto melanjutkan, motor di bawah 250 cc misal 125, 150, hingga 175 cc dirasa tidak perlu dilengkapi fitur ABS karena secara kecepatan maksimum, apalagi di Jakarta tidak akan terlalu kencang.

Ilustrasi fitur ABS. Sistem pengereman Ducati Supersport dilengkapi ABS yang bisa diatur level daya cengkramKompas.com - Adit, Ghulam Ilustrasi fitur ABS. Sistem pengereman Ducati Supersport dilengkapi ABS yang bisa diatur level daya cengkram

"Jadi saya rasa belum, dan di W175 sendiri juga masih belum ada ABS. Mungkin nanti kalau injeksi, itupun akan dipertimbangkan lagi," ucap Sucipto lagi.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Keselamatan Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Risal Wasal, pemerintah akan melakukan kajian untuk melihat sejauh mana ABS berperan mengurangi fatalitas pada motor berkapasitas kecil.

"Kalau untuk motor 250 cc ke atas itu sudah gunakan ABS, nah kita liat sekarang apa motor cc kecil juga perlu terapkan ini, apa sudah saatnya digunakan. Kita kaji dulu sampai bersama rekan-rekan, kemarin juga sudah ada focus group discussion (FGD), itu yang kita pertanyakan," ucap Risal beberapa waktu lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.