Urgensi ABS di Sepeda Motor, Benarkah Bisa Kurangi Angka Kecelakaan? - Kompas.com

Urgensi ABS di Sepeda Motor, Benarkah Bisa Kurangi Angka Kecelakaan?

Kompas.com - 16/11/2018, 14:42 WIB
Sejumlah pemudik motor melewati jalan raya Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (18/6/2018). Memasuki H+3 Lebaran, arus balik yang melalui jalur Puncak, Bogor mulai didominasi pemudik motor yang berasal dari wilayah Cianjur, Bandung, Pangandaran dan Tasikmalaya.ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH Sejumlah pemudik motor melewati jalan raya Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (18/6/2018). Memasuki H+3 Lebaran, arus balik yang melalui jalur Puncak, Bogor mulai didominasi pemudik motor yang berasal dari wilayah Cianjur, Bandung, Pangandaran dan Tasikmalaya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana regulasi anti-lock braking system (ABS) untuk sepeda motor berkapasitas kecil kembali ramai diperbincangkan. Beberapa pihak juga mulai mempertanyakan mengenai seberapa besar urgensi ABS untuk dijadikan perangkat wajib.

Selain dari pihak industri, asosiasi, dan pemerintah, Founder dan Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, juga ikut memberikan tanggapannya. Menurut Jusri dari sisi kaca mata keselamatan, ABS memang sangat berguna, tapi baiknya juga diperhitungkan lebih dulu mana yang lebih penting.

" Regulasi ABS itu bagus dan positif, tapi pertanyaannya apakah itu akan signifikan mengurangi angka kecelakaan, jawaban ya jelas tidak. Angka kecelakaan itu tidak ada kaitannya dengan ABS," ucap Jusri kepada Kompas.com, Kamis (15/11/2018).

Baca juga: Kata Kemenhub Regulasi ABS pada Motor Masih Jauh

Lebih lanjut Jusri menjelaskan, ABS merupakan kontributor untuk mengurangi potensi selip pada roda yang mungkin bisa menjurus atau menimbulkan kecelakaan dan fatalitas. Namun memasang ABS sendiri tidak akan ada efeknya untuk mereduksi angka kecelakaan.

Yamaha Freego S ABS dijajal di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa BaratYIMM Yamaha Freego S ABS dijajal di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat

Menurut jusri, kecelakaan terjadi lebih karena prilaku dan kondisi yang tidak aman. Contoh seperti menerobos lampu merah, berboncengan lebih dari kapasitas, mengabaikan kelengkapan berkendara, sampai pelanggaran melawan arah.

"Kalau mau dijadikan kewajiban sah-saha saja, tapi lebih baik dibereskan dulu masalah prilaku berkendaranya, edukasi mengenai rambu lalu lintas, sosilasisasikan mengenai dampak dari prilaku yang salah saat berkendara seperti apa. Kita bicara dalam kontek prilaku lebih dulu, bukan dari safety riding, karena ujung-ujung balik lagi ke bagaiamana manusianya dalam hal ini si pengendara," ujar Jusri.



Close Ads X