Banyak Korban Kecelakaan Semakin Parah Usai Ditolong - Kompas.com

Banyak Korban Kecelakaan Semakin Parah Usai Ditolong

Kompas.com - 15/12/2017, 09:42 WIB
Anggota Satlantas Polres Magetan dan warga mengevakuasi Paiman korban kecelakaan tabrakan sepeda motor konvoi kelulusan SMA di Jalan Umum Jurusan Bangsri-Sumberagung ,  di Desa Bangsri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Rabu ( 3/5/2017) siang. handout/Dedy Eka Apriyanto Anggota Satlantas Polres Magetan dan warga mengevakuasi Paiman korban kecelakaan tabrakan sepeda motor konvoi kelulusan SMA di Jalan Umum Jurusan Bangsri-Sumberagung , di Desa Bangsri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Rabu ( 3/5/2017) siang.

Jakarta, KompasOtomotif - Sebagai manusia, tentu hati nurani akan tergerak menolong tatkala melihat suatu kecelakaan terjadi di depan mata. Namun apa jadinya bila keinginan menolong itu tidak diimbangi pengetahuan atau teknik pertolongan pertama yang baik buat korban kecelakaan?

Pegiat safety driving sekaligus Training Director dari Jakarta Defensive Driving Consulting ( JDDC) Jusri Pulubuhu, menyampaikan, berdasarkan data statistik, diketahui bahwa penyelamatan pertama pada kecelakaan justru bisa memperparah keadaan korban. Masalahnya, pertolongan pertama bagi korban kecelakaan dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten.

Padahal, untuk menangani korban kecelakaan harus sangat hati-hati. Misalnya, mungkin saja pada korban yang mengalami kecelakaan itu terdapat luka dalam, meskipun tidak nampak dari luar tubuhnya.

Baca juga : Mau Menolong Korban Kecelakaan, Perhatikan Ini

"Berdasarkan statistik, di negara berkembang atau negara miskin banyak korban kecelakaan semakin parah keadaanya atau bahkan mati, itu terjadi pada saat pertolongan pertama. Kesimpulannya, banyak orang yang melakukan pertolongan tapi tidak paham caranya menangani," kata Jusri saat dihubungi KompasOtomotif, Rabu (13/12/2017).

Ilustrasi kecelakaan tabrakan mobil di Jakarta.Stanly/KompasOtomotif Ilustrasi kecelakaan tabrakan mobil di Jakarta.
Di beberapa negara lain, khususnya negara-negara maju, orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian tidak langsung memberikan pertolongan pada korban kecelakaan. Sebab jika salah dalam penangannya, maka orang tersebut berpotensi berurusan dengan hukum.

Oleh karena itu, biasanya yang dilakukan orang-orang di negara tersebut adalah segera menghubungi pihak terkait. Misalnya, kepolisian atau rumah sakit wilayah setempat.

"Kalau di luar negeri ketika terjadi kecelakaan justru orang tidak melakukan pertolongan pertama karena takut berurusan dengan hukum, karena korban bisa makin parah keadaannya, bahkan menyebabkan kematian," kata Jusri.

Baca juga : Indonesia Belum Masuk Negara Maju karena Jumlah Kecelakaan

Menurut Jusri, lantaran angka kecelakaan di Indonesia cukup tinggi, maka para pihak terkait sedianya membekali masyarakat dengan pelatihan penanganan pertama pada korban kecelakaan. Sehingga, ketika terjadi kecelakaan, masyarakat tahu bagaimana menanganinya.


EditorAgung Kurniawan

Close Ads X