E-Tilang Bisa Perbaiki Wibawa Aparat

Kompas.com - 16/12/2016, 09:31 WIB
Warga membayar denda tilang pada petugas kejaksaan di Warung Kopi Lhoksukon Aceh Utara, Kamis (31/3/2016) KOMPAS. COM/MASRIADIWarga membayar denda tilang pada petugas kejaksaan di Warung Kopi Lhoksukon Aceh Utara, Kamis (31/3/2016)
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia luncurkan program tilang online ( E-Tilang), yang bisa diakses melalui aplikasi ponsel pintar, Jumat (16/12/2016). Ini sebagai upaya untuk mereduksi praktik menyimpang dari oknum petugas penegak hukum, yang melakukan praktik pungli.

Guru Besar Transportasi UNTAR dan Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Leksmono Suryo Putranto mengutarakan pendapatnya, terkait program ini. Dirinya mengatakan, langkah ini harus didukung dan terus dikembangkan.

“Ini sebagai upaya awal mencegah terjadinya transaksi keuangan langsung, antara petugas dan masyarakat. Harus didukung karena dapat memperbaiki wibawa aparat penegak hukum,” ujar Leksmono yang bergelar Profesor ini kepada KompasOtomotif, Kamis (15/12/2016).

Prof Leksmono, begitu ia biasa disapa, melanjutkan kalau program ini sebisa mungkin terus dikembangkan menjadi e-enforcement (atau penegakkan hukum di era digital), yang bersifat tagihan langsung ke rekening pemilik kendaraan (pelanggar).

“Aplikasi ini juga bisa terintegrasi dengan ERP (Electronic Road Pricing), pembayaran tol, parkir dan lain sebagainya. Semua sistem harus ada mekanisme pengawasan, seperti ERP, nanti akan diawasi oleh sebuah dewan yang dibentuk sesuai amanat Peraturan Pemerintah,” ujar Prof Leksmono.

Bukan hanya itu, ujar Prof Leksmono, pengembangan E-Tilang juga bisa sampai pada tahap teknologi deteksi elektronik, yang memungkinkan akurasi kriteria pelanggaran, Misalnya pelanggaran lampu merah, pelanggaran yellow  box junction,  pelanggaran parkir, tunggakan pajak kendaraan dan pelanggaran lalu lintas lainnya.

“Deteksi elektronik merupakan gabungan antara kamera dengan prinsip APNR (automated plate number recognision), di mana alat tersebut akan melakukan deteksi otomais (sensor) kepada on board unit yang ada di kendaraan pelangar (yang  berisikan basis data kendaraan), dan ada juga teknologi yang lebih murah dengan stiker RFID, tapi itu mudah terkelupas,” ujar Prof Leksmono.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X