Pemerintah Dukung Penerapan CNG pada Bus

Kompas.com - 29/11/2015, 09:38 WIB
Armada bus Transjakart mengisi bahan bakar gas (BBG) jenis gas alam terkompresi (compresed natural gas/CNG) di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) company owned company operated (COCO), Jalan Daan Mogot, Jakarta, Sabtu (23/3/2013). Program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas untuk kendaraan hingga saat ini masih menghadapi persoalan menyangkut kesiapan jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas.
KOMPAS/PRIYOMBODOArmada bus Transjakart mengisi bahan bakar gas (BBG) jenis gas alam terkompresi (compresed natural gas/CNG) di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) company owned company operated (COCO), Jalan Daan Mogot, Jakarta, Sabtu (23/3/2013). Program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas untuk kendaraan hingga saat ini masih menghadapi persoalan menyangkut kesiapan jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas.
|
EditorAzwar Ferdian

Purwakarta, Otomania  -
Setelah merasa jalan di tempat, terkait dengan program edukasi dan sosialisasi konverter kit (komponen tambahan yang dipasangkan pada mobil pribadi, sehingga mobil bisa menggunakan bahan bakar gas), Kementerian Perindustrian, melakukan strategi baru. Salah satunya dengan mendorong pemanfaatan energi gas pada angkutan umum.

Hal tersebut seperti disampaikan I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, pada peresmian produksi kembali bus berbahan bakar gas CNG (Compressed Natural Gas) milik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (27/11/2015).

“Memang kalau pendekatannya pada kendaraan prbadi, masih sulit. Karena menyangkut selera, gaya hidup, kepercayaan dan lain sebagainya. Jadi pertimbangannya masih banyak. Sementara kalau kami dorong ini pada angkutan umum, masyarakat mau tidak mau pasti naik dan menggunakannya,” ujar Putu.

Putu menambahkan, hal ini dilakukan seperti pada pengadaan armada Transjakarta yang akan menggunakan bus berbahan bakar CNG. Kedepannya diharapkan tidak hanya Transjakarta, tapi semua bis milik pemerintah atau perusahaan pemerintah menggunakan bus CNG dan yang diproduksi di dalam negeri.

“Jadi nantinya diharapkan untuk pengadaan bis instansi pemerintah atau perusahaan pemerintah menggunakan bis CNG dan yang diproduksi di dalam negeri, serta bila perlu ditambahkan syarat, harus 70 persen konten lokal. Jadi akan sangat baik semuanya,” ujar Putu.

Dengan begitu, perusahaan bus yang memiliki pabrik di dalam negeri, semakin mendorong dirinya untuk mengembangkan teknologi ini. Tidak hanya itu, mereka juga akan meningkatkan penyerapan komponen lokal untuk unit yang akan dipasarkan di Indonesia. Selain progam maksimalisasi bahan bakar CNG meningkat, juga akan semakin terbukanya lapangan pekerjaan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X