Aceh Jadi Gerbang Importir Mobil Mewah Bekas

Kompas.com - 08/04/2014, 11:08 WIB
Pekerja menurunkan mobil sport eks Eropa saat tiba di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya Aceh Besar 31 Maret 2014 Sebanyak 30 unit mobil bekas 2 500 CC seperti Porsche BMW Mercedes Benz dijual dengan harga Rp 150 juta hingga Rp 350 juta. SERAMBI INDONESIA / BUDI FATRIAPekerja menurunkan mobil sport eks Eropa saat tiba di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya Aceh Besar 31 Maret 2014 Sebanyak 30 unit mobil bekas 2 500 CC seperti Porsche BMW Mercedes Benz dijual dengan harga Rp 150 juta hingga Rp 350 juta.
|
EditorAris F. Harvenda

Sabang, KompasOtomotif - Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar telah lama menjadi pintu masuk buat kendaraan impor bekas dari berbagai negara ke Indonesia. Maka jangan heran bila mobil Completely Built Up (CBU) mudah ditemui di wilayah paling Barat Indonesia, Aceh.

Tahun lalu menjadi tahun yang sibuk. Pada Agustus, PT Keunekai Lestari Sabang telah mengimpor 28 unit mobil mewah dan 15 unit moge. Kemudian pada September, Aceh kembali lagi kedatangan mobil produksi asing, kali ini PT Atjeh Mechine Centre (AMC) memasukan 34 mobil yang terdiri dari truk, boks interkuler, minibus, jip, dan sedan untuk dipasarkan.

SERAMBI INDONESIA / BUDI FATRIA Pekerja menurunkan mobil sport eks Eropa saat tiba di Pelabuhan Malahayati Krueng Raya Aceh Besar 31 Maret 2014 Sebanyak 30 unit mobil bekas 2 500 CC seperti Porsche BMW Mercedes Benz dijual dengan harga Rp 150 juta hingga Rp 350 juta.

Terakhir, pada akhir Maret lalu, AMC, kembali menghadirkan 30 mobil sport bekas merek Eropa. Direktur AMC, Husyn Abi Isma, menjelaskan, pemasaran ditujukan untuk kepemilikan pribadi, setiap unit telah bertuan.

Terdiri dari empat merek terkenal produksi 2003-2005, yakni Porsche, Mercedes-Benz, BMW dan Toyota dengan  perkiraan harga satuan unit bisa mencapai Rp 1 – 6 miliar. Meski sudah tidak gres, kondisi masing-masing unit masih tergolong baik.

Husyn mengungkapkan harga di pasar lokal mobil-mobil ini dibanderol sangat murah, Rp 150-350 juta. Daya beli masyarakat Aceh terhadap mobil mewah masih rendah, sebab itu harga jual yang dipatok cukup “merakyat”.

Kegiatan seperti ini didukung Pemerintah. Syafwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, menerangkan, impor mobil meningkatkan pendapatan daerah. Menurut laporan dari importir pada 2013, Syafwan menambahkan, kas negara bertambah Rp 1,5 miliar dari biaya Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

“Karena itu, jika ada impotir yang mengusulkan impor mobil bekas, Disperindag Aceh siap membantu mengusulkan kepada Kementerian Perdagangan,” ujar Syafwan, seperti diberitakan Tribun News, pekan lalu.

Febri Ardani Mitsubishi Colt di pelabuhan bebas Sabang, Aceh, (22/2/2014).

Mobil kompak
Tidak hanya mobil mewah, KompasOtomotif pernah merekam gambar salah satu “mobil asing” saat mengunjungi Pulau Weh, Sabang, Aceh. Rasa penasaran timbul setelah menemukan sosok mobil kompak Mitsubishi Colt tengah beristirahat di area parkir pelabuhan bebas.

Model ini terbilang sukar ditemui di Indonesia, sebab Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) selaku pemegang merek Mitsubishi di Tanah Air mengatakan tidak pernah menjual model ini di dalam negeri. Nama “Colt” lebih dikenal menyebut varian pikap Mitsubishi Colt Solar L300 yang dipasarkan di Indonesia.

Febri Ardani Tampak belakang mobil kompak Mitsubishi Colt.

“KTB tidak memasarkan model itu. Biasanya kalau sampai di daerah kerjaan Importir Umum (IU), mereka punya jaringan sendiri,” terang Jerry Amran, Head of MMC Public Relations Section PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, pada akhir Maret lalu.

Jerry mengingatkan, masalah yang harus dihadapi pemilik mobil demikian adalah keterbatasan suku cadang. Semua ditentukan jaringan layanan purna jual IU, bila masih kesulitan terpaksa pesan ke negara lain, otomatis harga menyesuaikan.

Febri Ardani Mobil Malaysia, Perodua Kembara (Daihatsu Taruna di Indonesia) ditemukan di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, (22/2/2014)

Barat
Sepanjang perjalanan di Pulau Weh, bukan hal mengherankan bila kerap berpapasan dengan kendaraan mewah. Menurut keterangan pekerja pelabuhan bebas Sabang, mobil-mobil yang beredar tidak bisa keluar dari pulau. Alasannya, kebanyakan unit “bodong”, plat nomor yang tertera di bodi mobil berlaku “seumur hidup” hanya di Weh.

Wilayah indonesia bagian barat menjadi area favorit buat peredaran mobil impor. Kebanyakan pemasok berasal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, serta negara terdekat lain.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X