Indonesia Menarik Bagi Investor Otomotif Luar, Tapi...?

Kompas.com - 01/05/2013, 09:32 WIB
Joko, pensiunan Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor. Agung KurniawanJoko, pensiunan Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor.
EditorAris F Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif - Potensi industri otomotif nasional sangat menarik bagi investor luar walau penjualan dan produksi mobil kalah dibandingkan dengan Thailand. Di lain hal, para pelaku masih terus merasakan berbagai ganjalan sehingga kontra produktif. Hal tersebut dikemukakan oleh Joko Trisanyoto, pengaman otomotif nasional, sebelumnya adalah Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor.

"Regulasi LCGC, misalnya, sampai sekarang tak kunjung keluar. Keputusan menaikkan BBM masing ragu-ragu. Ini akan mempengaruhi kepercayaan internasional," komentarnya kemarin (30/4/2013). 

"Bisnis itu penuh risiko, Indonesia ini ibarat, high risk high return. Tinggal siapa saja (prinsipal) yang berani canggih-canggihan di sini karena potensinya luar biasa," tegas Joko.

Salah satu masalah utama - sampai sekarang belum juga diselesaikan pemerintah - adalah kesiapan infrastruktur. Ini bukan sekedar menambah pembangunan jalan untuk mengurai kemacetan jalan. "Lebih ke infrastruktur pendukung industri, seperti pelabuhan laut, pergudangan dan transportasi publik. Semuanya sangat minim," lanjutnya.

Industri wajib didorong karena dari sinilah diperoleh nilai tambah bisnis,yaitu penyerapan tenaga kerja, investasi dan efek berantai ekonomi yang menghidupkan masyarakat banyak. Infrastruktur yang minim menyebabkan investor memilih berdagang saja. "Sangat penting, pemerintah bisa menghasilkan regulasi yang pasti untuk jangka panjang. Jangan sebentar-sebentar berubah! Ganti pimpinan juga berubah. Hal ini menimbulkan spekulasi!" papar Joko.

Distribusi
Distribusi, menurut Joko merupakan salah satu bagian terpenting dalam memajukan industri, terutama otomotif. Pemanfaatan sarana transportasi kereta belum maskimal. Padahal bisa dinadalkan di sepanjang Pulau Jawa.

"Kalau sepanjang Jakarta-Surabaya dibangun rel ganda dan stasiun yang dilewati bisa muat kontainer, distribusi bisa menggunakan kereta. Akan mengurangi beban Pantura," lanjutnya.

Ditambahkan, ekonomi Indonesia memang terus bergerak.  Namun kalau tidak ditopang  dengan insfrastruktur yang baik, perkembangannya juga lambat. "Pemimpin di negeri ini wajib berfikir sampai  ke sana. Jangan cuma menduduki jabatan saja," tutup Joko.
 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.