Sepeda Motor Diklaim Jadi Sumber Polusi Terbesar di DKI Jakarta

Kompas.com - 24/09/2022, 15:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengatakan bahwa kualitas udara DKI Jakarta dalam 10 terakhir relatif menunjukkan ke arah tren negatif. Banyak faktor yang jadi penyebabnya, terutama pada sektor transportasi.

Lebih jauh, pada periode 2011-2022 kualitas udara DKI Jakarta jauh dari kata baik. Bahkan pada 2020, konsentrasi rata-rata tahunan mencapai PM 2,5 (46,1 g/m3), PM10 ( PM10 (59,03 g/m3), Ozone (83,3 g/m3), sulfur dioksida (42,76 g/m3).

"Tren kualitas udara DKI Jakarta relatif buruk, setidaknya 10 tahun terakhir ini. Konsentrasi penceparan udara untuk parameter PM10 melewati baku mutu yang ditetapkan pemerintah, demikian pula OM 2,5 Ozon dan sulfir dioksida," kata Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin dalam diskusi virtual.

Baca juga: Jangan Asal Ganti Warna Pelat Nomor, Ada Aturannya

Sebuah tangki menyemprotkan air di jalanan New Delhi yang padat, dalam upayamengurangi polusi udara.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Sebuah tangki menyemprotkan air di jalanan New Delhi yang padat, dalam upayamengurangi polusi udara.

"Hampir 73 persen penyumbang utama paling dominan di Jakarta ialah sektor transportasi, yang mana dominasinya itu pada kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat," lanjut dia.

Lebih jauh, ia menyatakan konsentrasi pencemaran konsentrasi PM10 totalnya cukup besar, sekitar 39 ribu ton (per hari) polutan yang hingga di langit DKI Jakarta dan sekitarnya.

Sebanyak 19.000 di antaranya berasal dari kendaraan bermotor atau sekitar 47 persen, 20 persen industri, 11 persen dari debu jalanan, pembakaran sampah 5 persen, konstruksi sekitar 11 persen, dan power plant 4 persen,

Sedangkan konsentrasi PM 2,5 atau partikel debu 2,5 milimicron totalnya itu 29 ribu ton per hari. Hampir 17 ribu ton berasal dari transportasi.

"Beban emisi -polutan udara, di Jabodetabek diperkirakan 19.165 ton per hari, yang bersumber dari sepeda motor 45 persen, truk 20 persen, bus 13 persen, mobil diesel 6 persen, mobil bensin 16 persen, dan kendaraan roda tiga sekitar 0,01 persen," ujar Puput, panggilan akrabnya.

Baca juga: Inden Subaru BRZ sampai Tahun Depan

Foto stok: Polusi udaraKOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Foto stok: Polusi udara

Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI membuat Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) memang sudah berupaya untuk menangulangi hal tersebut. Tapi banyak aspek yang diklaim KPBB belum optimal.

Seperti, tersedianya transportasi massal atau umum yang aman dan nyaman. Sehingga masyarakat bisa melakukan peralihan ke sana.

"Kita tidak dilarang menggunakan kendaraan pribadi, tidak dilarang untuk punya. Tapi bagaimana kita bisa menggunakannya secara bijak sesuai kebutuhan guna memperbaiki kualitas udara di DKI Jakarta," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.