Kompas.com - 22/09/2022, 07:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknik dan elektronika asal Jerman, Bosch menyebut bahwa terdapat risiko yang cukup besar jika industri kendaraan listrik sangat bergantung pada satu sumber bahan bakar yaitu sel baterai.

Satu diantaranya, potensi terjadi market shock akibat permintaan atau demand yang terlalu tinggi, tidak diimbangi oleh suplai. Apalagi dengan adanya krisis gas di Eropa akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

Sehingga berbagai industri, khususnya yang bergerak pada kendaraan listrik harus mencari energi alternatif.

Baca juga: Viral Isu Pertalite Lebih Boros Usai Naik Harga, Ini Kata Pertamina

Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.Toyota Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.

"Kami melihat adanya konsekuensi dari kekurangan gas untuk Jerman dan Eropa karena tersedianya alternatif yang terlalu sedikit," ujar Kepala Layanan Mobilitas untuk Bosch, Markus Heyn dikutip dari Bloomberg, Rabu (21/9/2022).

"Di industri otomotif, kita harus menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada diri sendiri apa yang bisa kita lakukan jika sel baterai terlalu sedikit," lanjut dia.

Alternatif baterai yang perlu dipertimbangkan, kata Heyn, termasuk sel bahan bakar yang menggunakan hidrogen dan oksigen untuk menggerakkan motor listrik.

Baca juga: Ini Jenis SIM untuk Pemilik Mobil Listrik

Baterai saat ini merupakan salah satu komponen utama pada kendaraan listrik yang sangat berpengaruh pada harga. Namun, industri kendaraan listrik mulai goyah belakangan, karena harga lithium sebagai bahan baku baterai melonjak drastis.

Hal tersebut juga membuat produsen mobil listrik mempertimbangkan untuk segera menawarkan margin yang sama dengan kendaraan berbahan bakar fosil.

"Setiap orang pasti ingin melihat alternatif untuk daya baterai. Tapi ini hanya akan ada jika kita telah mempersiapkannya di waktu yang tepat," kata dia lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Bloomberg


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.