Kompas.com - 29/07/2022, 15:21 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.comMobil listrik merupakan teknologi yang menjadi sebuah keniscayaan. Cepat atau lambat, kendaraan tersebut bakal dibutuhkan masyarakat. Meski begitu, sampai saat ini penetrasi mobil listrik masih dibayangi keraguan dari konsumen.

Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Miftahudin, mengatakan, ada sejumlah faktor yang membuat peralihan menggunakan mobil listrik terhambat.

Berdasarkan riset yang dilakukan Pike Research pada 2009, disebutkan bahwa dua dari tiga konsumen bahkan tak segan membayar lebih apabila mobil listrik lebih hemat.

Baca juga: Deretan PO AKAP yang Punya Restoran Sendiri, Bukan Cuma Rosalia Indah

Mobil Hyundai Ioniq 5 usai peluncuran di IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (31/3/2022). PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi memasarkan mobil listrik Ioniq 5 yang menjadi mobil listrik pertama yang diproduksi di Indonesia.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Mobil Hyundai Ioniq 5 usai peluncuran di IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (31/3/2022). PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi memasarkan mobil listrik Ioniq 5 yang menjadi mobil listrik pertama yang diproduksi di Indonesia.

Menurut Miftahudin, edukasi konsumen jadi salah satu hambatan. Sebab konsumen sebetulnya tak masalah beralih ke mobil listrik jika memang bisa mengurangi biaya energi.

Konsumen masih menganggap mobil listrik khususnya di Indonesia masih banyak kekuarangan. Di antaranya adalah sebaran listrik di Indonesia belum merata. Di Jawa surplus, tapi di beberapa pulau ada yang tidak stabil,” ujar Miftahudin dalam seminar PEVS di JIExpo, Kemayoran (28/7/2022).

Ia juga mengatakan, hambatan selanjutnya adalah harga mobil listrik yang tidak terjangkau. Harga yang mahal membuat mobil listrik hanya bisa dimiliki 5 persen dari penduduk Indonesia.

Baca juga: Cek Kisaran Harga Fortuner Bekas yang Banyak Dicari Warga Semarang

Kemudian, masih terbatasnya stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) turut jadi kendala. Sebab tanpa SPKLU yang tersebar di banyak daerah, konsumen juga berpikir dua kali memakai mobil listrik.

“Karena biaya pembuatan 1 SPKLU lumayan mahal. Paling tidak butuh Rp 1 miliar. Rp 1 miliar kalau konsumen hanya ada 1.000 kendaraan, tentu tidak balik modal dalam jangka waktu yang masuk akal,” ucap dia.

Tak ketinggalan soal evolusi teknologi kendaraan listrik. Di mana setiap kendaraan listrik memiliki teknologi baterai, tempat pengecasan, hingga motor listrik yang berbeda-beda.

“Kita harus berhati-hati ketika memilih satu teknologi yang paling pas untuk Indonesia. Itu bukan perkara yang mudah, apakah kita akan memilih model yang dikembangkan perusahaan A atau negara A, atau dari negara B,” kata Miftahudin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.