Antisipasi Aquaplaning, Perhatikan Kelayakan Ban Sebelum Berkendara

Kompas.com - 26/02/2022, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Aquaplaning merupakan kondisi di mana ban mobil slip saat melewati genangan air dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, pengemudi bisa kehilangan kendali akan kendaraannya.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab terjadinya aquaplaning. Tidak mengurangi kecepatan kendaraan saat melalui jalan yang basah merupakan salah satunya.

Fenomena ini biasanya kerap terjadi di jalan tol saat hujan atau kondisi jalan basah. Sebab, kendaraan di jalan tol melaju dalam kecepatan yang tinggi dan stagnan. Kemungkinan terjadi aquaplaning di jalan tol sangat besar.

Baca juga: Tidak Hanya Mobil, Motor Juga Berisiko Kena Aquaplaning

Namun, pengemudi bisa mengantisipasi hal ini. Selain dengan membatasi kecepatan ketika melewati genangan air, pengemudi juga harus memastikan kondisi ban masih layak pakai.

"Pengaruh permukaan ban yang gundul, grip atau alurnya sudah tipis, itu akan membuat impact aquaplaning semakin besar," kata Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) pada Kompas.com, belum lama ini.

Ketika alur ban sudah tipis atau ban mulai gundul, Jusri mengibaratkan telapak ban seperti batu tipis yang dilempar ke genangan air. Dalam kecepatan tinggi, roda akan 'melayang' sehingga menyebabkan kendaraan kehilangan kendali.

Kemudian perlu diketahui, ada jenis ban yang ternyata performanya kurang baik saat dipakai di jalan yang basah atau digenangi air.

Ilustrasi aquaplaningwww.reifen.de Ilustrasi aquaplaning

On Vehicle Test Manager PT Gajah Tunggal Tbk. Zulpata Zainal menjelaskan bahwa ban tapak lebar lebih rawan mengalami aquaplaning, walaupun performanya baik di kondisi jalan yang kering.

"Di lapangan tes GT radial, biasa dilakukan aquaplaning atau hydroplaning. Hasilnya, ban yang lebih lebar akan lebih cepat terjadinya gejala aquaplaning," jelas Zulpata, seperti dikutip Kompas.com.

Jenis ban dengan alur yang performanya dikatakan baik di jalan kering maupun basah ialah ban asymmetric atau asimetris, yang memiliki telapak berbeda di sisi dalam dan luar ban.

Baca juga: Catat, Ini 7 Pelanggaran yang Diincar di Operasi Keselamatan Jaya 2022

"Ban pola telapak asymmetric ini sangat baik untuk jalan kering maupun basah, keduanya bisa dibuat optimum. Umumnya performa ban setengah sisi keluar adalah untuk d permukaan kering, setengah telapak ke dalam untuk di jalanan basah," jelas Zulpata.

Meski begitu, ia menganjurkan pengemudi untuk tetap berhati-hari saat melewati jalanan yang basah atau digenangi air.

"Ban lebar atau tidak, sebaiknya lebih hati-hati. Karena pasti cengkeraman dan yang paling penting respons ban jadi berkurang di permukaan basah," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.