Sasaran Pemberian Insentif Pajak Pertambahan Nilai di Sektor Otomotif

Kompas.com - 24/01/2022, 17:11 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah RI mengungkapkan kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di sektor properti dan otomotif mengincar mengincar masyarakat di golongan menengah ke atas, dalam upaya mendorong multiplier effect.

Sehingga dalam jangka waktu panjang, mendorong pemulihan ekonomi di Tanah Air usai terdampak pandemi Covid-19 pada dua tahun belakangan. Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu.

“Logika dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tersebut memang sangat baik,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (23/1/2022).

Baca juga: Dasar Hukum Tes Psikologi dalam Pembuatan SIM Baru

Pengunjung melihat mobil-mobil yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (15/4/2021). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang berlangsung pada 15-25 April itu digelar secara daring (online) dan kunjungan langsung dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan Covid-19.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pengunjung melihat mobil-mobil yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (15/4/2021). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang berlangsung pada 15-25 April itu digelar secara daring (online) dan kunjungan langsung dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan Covid-19.

Menurut Febrio, selama 2020 pandemi telah menghantam pertumbuhan ekonomi hingga berada di angka negatif 2,1 persen. Tapi memasuki 2021 banyak program pemerintah yang keluar untuk mendorongnya kembali.

Alhasil, benar saja tingkat ekonomi tahun lalu bisa mencapai 3,7 persen sampai 3,8 persen. Padahal di kuartal II-Kuartal III/2021 terdapat PPKM sehingga beberapa aktivitas masih kerap terhambat.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal III itu 3,5 persen, padahal di kuartal II 7,1 persen. Ini membuat pertumbuhan ekonomi terhambat, yang tadinya kita berharap bisa mencapai 5 persen di tahun 2021, akhirnya hanya berada di sekitar 3,7-3,8 persen," katanya.

Karena itu, pemerintah terus melakukan upaya percepatan pertumbuhan ekonomi yang didorong dengan kebijakan-kebijakan yang memiliki multiplier effect kuat, salah satunya insentif pajak di sektor otomotif.

Dalam insentif di sektor otomotif, local purchase-nya (jumlah persentase tertentu dalam pembelian komponen dari dalam negeri yang wajib untuk dipenuhi pabrikan untuk mendapatkan insentif) mencapai 80 persen.

Baca juga: Mengapa Tes Psikologi Penting bagi Pemohon SIM?

Ilustrasi penjualan mobilKOMPAS.com/STANLY RAVEL Ilustrasi penjualan mobil

Hal ini dinilai berdampak sangat tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) dari masyarakat kelas menengah atas dinilai masih tumbuh sangat tinggi di 2021 hingga lebih dari 12 persen.

“Banyak dana dari kelas terkait yang harusnya bisa tersalurkan membeli barang-barang dengan adanya insentif pemerintah itu. Ini kita harapkan bisa menjadi dorongan yang lebih cepat lagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi di 2022,” kata dia.

Untuk diketahui, pada Sidang Kabinet Paripurna 30 Desember 2021 lalu, diputuskan bila insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi properti akan diperpanjang hingga Juni 2022.

Sementara di sektor otomotif, berlaku disesuaikan dengan harga Rp 200 juta – Rp 250 juta yang memperoleh tarif PPnBM DTP sebesar 15 persen. Sehingga masyarakat hanya membayar PPnBM sebesar 7,5 persen dan di kuartal II sudah membayar penuh sesuai tarifnya sebesar 15 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.