Edukasi, Kunci Cegah Terjadinya Kecelakaan Truk akibat Rem Blong

Kompas.com - 24/01/2022, 15:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh truk mengalami rem blong sudah jamak terjadi di berbagai daerah, seolah tidak ada solusi pencegahan yang efektif agar insiden serupa tidak terjadi lagi.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kerap menemukan kasus rem blong pada kendaraan niaga baik angkutan penumpang maupun angkutan barang terjadi pada jalan menurun.

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan menjelaskan, di jalan menurun terdapat energi kinetik yang berasal dari gaya gravitasi, berbeda dengan ketika kendaraan melaju di jalan datar.

Baca juga: Polri Tegaskan Ganti Warna Pelat Nomor dan Pasang Cip Tak Dipungut Biaya

Relawan membersihkan cabai yang tumpah karena kecelakaan di Jalan Lingkar Salatiga KOMPAS.com/Dian Ade Permana Relawan membersihkan cabai yang tumpah karena kecelakaan di Jalan Lingkar Salatiga

"Jika kita mengerem di jalan datar, roda berhenti berputar, putaran mesin turut melambat. Jadi menghentikan kendaraan di jalan datar hanya dengan rem itu efektif," kata Wildan kepada Kompas.com, Senin (24/1/2022).

"Tidak demikian di jalan menurun. Saat mengerem, roda hanya sesaat berhenti. Begitu rem diangkat maka roda kembali berputar oleh gaya yang jauh lebih besar. Inilah energi potensial yang diciptakan gaya gravitasi," ujarnya lebih lanjut.

Maka dari itu, telah disediakan rem dalam berbagai macam demi keselamatan. Selain rem utama yang berbasis gesekan untuk mengerem di jalan datar, ada rem pembantu berupa engine brake dan exhaust brake untuk menahan putaran mesin dan roda dalam melawan gaya gravitasi. Rem pembantu digunakan untuk memperlambat putaran roda, bukan menghentikan.

Baca juga: Mengenal Pelat Nomor Kendaraan Berdasarkan Warna Dasarnya

Kondisi mobil Honda Jazz yang ringsek akibat ditabrak mobil truk tronton yang mengalami rem blong di TubanKOMPAS.COM/HAMIM Kondisi mobil Honda Jazz yang ringsek akibat ditabrak mobil truk tronton yang mengalami rem blong di Tuban

Sayangnya, Wildan menilai masih ada pengemudi yang tidak paham akan pengetahuan tersebut. Kerap ia temui pengemudi bus dan truk masih mengandalkan rem utama secara terus menerus saat melalui jalan menurun. Tentu tindakan tersebut akan mengakibatkan rem blong.

Ia menilai, edukasi kepada pengemudi harus lebih rutin dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. Bukan hanya dari pihak pemerintah, tapi juga berbagai pihak yang terlibat.

"Saat ini hanya Ditjen Perhubungan Darat dan BPTJ yang sering berusaha mengedukasi pengemudi terkait hal ini. Seharusnya semua pihak terlibat, karena sumber daya di Ditjen Darat dan BPTJ tidak sebanding dengan jumlah pengemudi. Pemerintah Daerah, Jasa Raharja, APM, pengelola tol, harus turut serta," ucap Wildan.

"Saya ibaratkan seperti Covid-19, ketika ketemu vaksinnya semua bergerak. Nah di kasus rem blong ini vaksinnya kan sudah ketemu. Ayo semuanya bersama memberi edukasi ke pengemudi, jangan hanya Kemenhub saja," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.