Terobos Lampu Merah Tindakan Konyol, Bisa Didenda Rp 500.000

Kompas.com - 17/01/2022, 17:31 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu bentuk pelanggaran lalu-lintas yang cukup banyak dijumpai ialah pemakai jalan yang menerobos lampu merah, padahal tindakan itu berisiko tinggi.

Pemerhati masalah transportasi dan hukum, Budiyanto, mengatakan, menerobos lampu merah adalah tindakan konyol karena dalam waktu bersamaan ada kendaraan dari arah lain berjalan.

Baca juga: Bamsoet Harap Street Race Bisa Hasilkan Pebalap dari Pembalap

Budiyanto mengatakan, setidaknya ada dua latar belakang seseorang menerobos lampu merah. Pertama ialah karena ada kesempatan di mana jalan sepi dan kedua karena arogan atau dorongan adrenalin.

Kecelakaan yang melibatkan mobil dengan nomor polisi B-1940-NOB dan sepeda motor terjadi di simpang empat traffic light Jalan Kesehatan, Gambir, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/1/2021).   Kecelakaan itu terjadi duduga karena pengemudi mobil jenis Mazda bernama Elisia (28) menerobos lampu merah.Dokumentasi Satlantas Polres Jakarta Pusat Kecelakaan yang melibatkan mobil dengan nomor polisi B-1940-NOB dan sepeda motor terjadi di simpang empat traffic light Jalan Kesehatan, Gambir, Jakarta Pusat pada Sabtu (2/1/2021). Kecelakaan itu terjadi duduga karena pengemudi mobil jenis Mazda bernama Elisia (28) menerobos lampu merah.

"Apapun alasannya menerobos lampu merah tidak dibenarkan karena berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas," kata Budiyanto, di Jakarta, Senin (17/1/2022).

Untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat pengguna jalan mengenai aturan yang berkaitan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas atau Apil, diatur dalam UU No 22 tahun 2009 mengenai LLAJ.

Apil berfungsi untuk mengatur lalu lintas orang dan kendaraan di persimpangan atau pada ruas jalan tertentu. Menggunakan perangkat elektronik termasuk isyarat lampu yang dapat dilengkapi bunyi.

Baca juga: Suzuki Rilis New U-Enjoy 125, 1 Liter Bisa Tembus 100 Km

Tangkapan layar video CCTV Bus menggilas kendaraan yang sedang menunggu pergantian traffic light di persimpangan depan RSUD Husada, Jalan Letjen S Parman, Kota Bontang, Kalimantan Timur, Senin (2/3/2020) sore.Istimewa Tangkapan layar video CCTV Bus menggilas kendaraan yang sedang menunggu pergantian traffic light di persimpangan depan RSUD Husada, Jalan Letjen S Parman, Kota Bontang, Kalimantan Timur, Senin (2/3/2020) sore.

Pasal 104 ayat 4 huruf e, berbunyi:

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mematuhi ketentuan alat pemberi isyarat lalu lintas (Apil).

Ketentuan pidana atau sanksi diatur dalam pasal 287 ayat 2, berbunyi:

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas sebagai mana dimaksud dalam pasal 106 ayat 4 huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.