Era Kendaraan Listrik di Indonesia Tidak Bisa Ditunda

Kompas.com - 26/11/2021, 13:41 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik. (Dok. Shutterstock/ BigPixel Photo)Ilustrasi kendaraan listrik.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Program percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) untuk transportasi jalan di dalam negeri tidak bisa ditunda lagi. Pasalnya, hal tersebut bisa membuat Tanah Air hanya menjadi penikmat pasar saja.

Sehingga, saat ini kesempatan investasi harus dibuka selebar-lebarnya di samping memajukan riset dan pengembangan agresif, tanpa melupakan hubungan berkesinambungan dengan pihak swasta.

Demikian dikatakan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko saat membuka pameran otomotif Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2021, Rabu (24/11/2021).

Baca juga: Kabar Terbaru Soal Xpander Hybrid di Indonesia, Masih Jalan di Tempat

Motor listrik GesitsKompas.com/ArdiansyahFadli Motor listrik Gesits

"Penyiapan transisi energi menuju energi hujau merupakan keharusan. Ini bukan hal yang bisa ditunda lagi, Presiden RI meminta untuk gunakan waktu sebaik-baiknya untuk memperkuat pondasi," kata dia.

"Jika tidak, maka Indonesia berpotensi hanya akan menjadi pasar. Jangan sampai kita terlena, ketinggalan lagi, dan hanya menjadi penonton. Kita sungguh sangat rugi," kata Moeldoko, melanjutkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Moeldoko, Indonesia memiliki seluruh aspek yang diperlukan ke era elektrifikasi kendaraan bermotor, baik sumber daya alam, manusia, sampai dengan industri otomotif penunjang.

Hanya saja memang masih terdapat beberapa tantangan terkhusus di sektor komponen baterai motor listrik yang memerlukan nilai investasi cukup tinggi.

“Baterai dan motor ini kita masih impor, kalau ini bisa segera kita beresin. Kita punya bahan baku yang ada semuanya di sini," katanya.

Baca juga: Motor Bebek Astrea Elektrik di IEMS 2021, Unik Pakai Girboks

Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasiSHUTTERSTOCK/ROMAN ZAIETS Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi

Kemudian, ia pun menoroti soal kolaborasi antara periset dengan swasta, insentif terhadap pelaku industri, perusahaan pembiayaan sebagai salah satu bagian penting di ekosistemnya, dan lain-lain.

Tentu, tidak lupa juga mengenai infrastruktur pendukung seperti Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPKLU) dan/atau tukar baterai bagi sepeda motor listrik.

"Ayo kita kolaborasi bersama. Fokus pada kebutuhan mobil listrik, apa-apa komponennya. Itu yang kita kejar sehingga mobil listrik semakin murah karena semua produknya dari dalam negeri,” ujarnya.

"Kalau dengan cara ICE (internal combustion engine) itu sudah ketinggalan. Kita tidak akan bisa mengejar. Tapi dengan ini sebenarnya walau Tesla pertama kali, Indonesia tapi belum terlalu ketinggalan masuk ke dunia itu," tambah Moeldoko.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.