Jangan Kesal Diminta Turun dari Motor Saat Isi Bensin, Ini Alasannya

Kompas.com - 08/10/2021, 07:12 WIB
Ilustrasi pengendara sepeda motor sedang mengisi BBM di SPBU Pertamina. PertaminaIlustrasi pengendara sepeda motor sedang mengisi BBM di SPBU Pertamina.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada beberapa peraturan saat isi bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Buat pengendara sepeda motor diwajibkan turun dari kendaraanya.

Aturan ini dilakukan oleh seluruh tempat pengisian bahan bakar, bersifat universal baik di SPBU milik Pertamina (Persero) maupun Shell.

Kepala SPBU Pertamina Cikini dan Pramuka Paimin mengatakan, kewajiban pengendara motor harus distandar dan turun dari motor, yaitu untuk menghindari penyebaran jika terjadi percikan atau munculnya api.

Baca juga: [VIDEO] Aprilia RS660, Motor Jalan Raya Spek Balap

Ilustrasi operator SPBU Pertamina menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).Pertamina Ilustrasi operator SPBU Pertamina menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

“Untuk pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM), wajib mematikan mesin. Karena panas mesin disekitar area pengisian sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kebakaran. Untuk roda dua pada saat pengisian BBM wajib standard dan turun dari motor,” ujar Paimin kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lantas apa hubungannya?

Paimin mengatakan, ketika ada percikan api di sekitar atau di kendaraan kecenderungan pemilik akan panik dan membanting motornya.

Kemudian motor akan terjatuh karena tidak distandar sehingga berpotensi membuat api makin besar.

“Saat panik, umumnya motor akan ditinggal begitu saja atau dijatuhkan. Pemilik akan kabur menjauhi sumber api tadi. Perilaku seperti ini yang ingin dihindari, karena potensi api tambah besar dan menyebar,” katanya.

Baca juga: Ganjil Genap di Kawasan Puncak Bogor Masih Berlaku Pekan Ini

Ilustrasi SPBU PertaminaDOK. PERTAMINA Ilustrasi SPBU Pertamina

Hal tersebut berbeda jika motor di standar dan pemiliknya turun dari kendaraan. Seandainya ada kebakaran, pemilik hanya lari meninggalkan motor di tempat tapi tidak menyebar.

Paimin mengatakan saat pengendara turun dan motor di standar dua maka penangannya bisa lebih cepat.

Selain itu, mesin kendaraan juga harus dimatikan. Pasalnya, mesin kendaraan merupakan unsur pematik api.

“Ketika didukung udara dan ada zat pembakaran yakni uap bensin, maka hanya butuh sepersekian detik dari keadaan normal untuk memicu api” ucap Paimin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.