Kecelakaan Bus Juga Kerap Terjadi karena Minim Pemahaman Pengemudi

Kompas.com - 04/10/2021, 11:42 WIB
Kecelakaan bus Rukun Sayur dengan nomor polisi AD 1523 CF di kilometer 202 Tol Palimanan - Kanci, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (14/7/2015). Akibat kecelakaan ini sedikitnya 11 orang meninggal dunia. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KRISTIANTO PURNOMOKecelakaan bus Rukun Sayur dengan nomor polisi AD 1523 CF di kilometer 202 Tol Palimanan - Kanci, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (14/7/2015). Akibat kecelakaan ini sedikitnya 11 orang meninggal dunia. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

JAKARTA, KOMPAS.comKecelakaan bus di Indonesia relatif masih kerap terjadi. Upaya untuk mengurangi jumlah kecelakaan itu pun terus dilakukan demi menghadirkan jalanan yang aman dan selamat.

Salah satu penyebab dari kecelakaan bus adalah human error atau kesalahan pengemudi. Sayangnya, masih ada beberapa salah kaprah yang dianggap benar oleh pengemudi, padahal salah dan bisa membahayakan.

Soerjanto Tjahjono, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi, mengatakan, beberapa kecelakaan bus di Indonesia disebabkan pemahaman yang keliru dan fatal dari pengemudi.

Baca juga: Bagnaia Raih Pole Position GP Amerika, Quartararo Makin Hormat

Bus pariwisata yang ditumpangi peziarah asal Subang terbalik dan ringsek di jurang Tanjakan Cae, Wado, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (11/3/2021). Hingga sore ini, bus belum dievakuasi. AAM AMINULLAH/KOMPAS.comKOMPAS.COM/AAM AMINULLAH Bus pariwisata yang ditumpangi peziarah asal Subang terbalik dan ringsek di jurang Tanjakan Cae, Wado, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (11/3/2021). Hingga sore ini, bus belum dievakuasi. AAM AMINULLAH/KOMPAS.com

“Banyak pengemudi yang ngomong, kalau memakai exhaust brake membuat solar boros dan membuat mesin gampang rusak, ini pengertian yang salah,” ucap Soerjanto dalam acara Accident Review Forum KNKT beberapa waktu lalu.

Exhaust brake ini sebenarnya adalah rem pembantu, sangat berguna untuk mengurangi kecepatan bus ketika melewati turunan yang panjang. Salahnya, karena dianggap bikin boros BBM, pengemudi memakai gigi tinggi saat melewati turunan dan hanya mengandalkan rem kaki.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengemudi enggak tahu hal tersebut, jadi tidak mau memakai exhaust brake untuk tambahan pengereman ketika jalan turunan panjang,” kata Soerjanto.

Baca juga: Intip Harga LCGC Jelang Penerapan Carbon Tax Oktober Ini

Salah kaprah lainnya adalah soal rem bus yang sudah dilengkapi dengan Anti-lock Braking System (ABS). Banyak pengemudi yang mengatakan bahwa bus dengan rem ABS lebih pakem daripada yang non-ABS, lagi-lagi ini pemahaman yang terbalik.

“Justru dengan ABS jarak pengereman akan lebih panjang. Keuntungan ABS adalah ban tidak mengunci sehingga masih bisa disetir. Tapi, banyak pengemudi yang sering menempel di jalan tol dalam kecepatan tinggi karena merasa aman memakai rem ABS,” ucapnya.

Soerjanto memohon kepada PO bus dan ATPM memberikan pelatihan kepada para pengemudi agar tidak salah dalam pengoperasian kendaraan, sehingga pengetahuan pengemudi bisa bertambah dan bisa mengemudi lebih aman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.