Human Error, Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas Paling Dominan

Kompas.com - 21/09/2021, 18:42 WIB
Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) KM 36.100A arah timur, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (3/9/2021). Dok. TMC Polda Metro JayaKecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) KM 36.100A arah timur, Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (3/9/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sering kali terjadi kasus kecelakaan lalu lintas. Faktor penyebabnya pun bisa bermacam-macam, tapi ternyata yang paling dominan adalah human error.

Dalam konteks kecelakaan, human error berarti faktor manusia. Faktor ini juga bisa bermacam-macam lagi penyebabnya.

Baca juga: Kecelakaan Maut Pikap Tabrak Truk, Ingat Lagi Cara Menyalip yang Aman

"Pengalaman secara empiris sewaktu menjabat Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, sebagai salah satu pembina penyidik laka lantas memberikan hipotesa bahwa dalam perkara kecelakaan lalu lintas faktor manusia sebagai salah satu penyebab kecelakaan yang cukup dominan," ujar pemerhati masalah transportasi yang juga mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Budiyantoo, dalam keterangan resminya.

Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) melibatkan dua motor di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur, Kamis (5/8/2021). Satu orang tewas di tempat.INSTAGRAM.com/INFO_JAKARTATIMUR Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) melibatkan dua motor di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur, Kamis (5/8/2021). Satu orang tewas di tempat.

Budiyanto menambahkan, bisa dilihat dari pengakuan para tersangka kasus kecelakaan yang pada umumnya memberikan pengakuan bahwa sebelum terjadi kecelakaan, mereka memberikan keterangan karena kurang konsentrasi, sehingga terjadi kecelakaan.

"Kurang konsentrasinya para pengemudi yang terlibat dalam kecelakaan, banyak hal yang melatar belakangi, antara lain sakit, lelah, menggunakan ponsel, terpengaruh alkohol, narkoba, tidak mampu mengendalikan kemudi, dan sebagainya," kata Budiyanto.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: KNKT Beberkan Fakta Terkait Kecelakaan Maut Truk di Breksi, Yogyakarta

Budiyanto mengatakan, pada kasus kecelakaan yang disebabkan faktor manusia juga dilatarbelakangi faktor-faktor lain yang menyertai, seperti faktor kendaraan, jalan, maupun faktor lingkungan.

Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di Jalan Raya Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (30/7/2021). Mobil Toyota Kijang Innova mengalami pecah ban.Dok. Satlantas Polres Jakarta Timur Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi di Jalan Raya Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (30/7/2021). Mobil Toyota Kijang Innova mengalami pecah ban.

"Secara empiris faktor manusia dengan berbagai situasi yang melanggar cukup mendominasi. Hipotesa awal bahwa dalam kasus-kasus kecelakaan lalu lintas bahwa sebelum terjadinya kecelakaan lalu lintas pada umumnya diawali dengan pelanggaran," ujar Budiyanto.

Perlu diingat, tidak berkonsentrasi saat berkendara merupakan pelanggaran lalu lintas. Hal tersebut sudah diatur dalam Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.iStock/Kwangmoozaa Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.

Dalam pasal tersebut, pelanggar akan dipidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling besar Rp 750.000.

Untuk kendaraan juga perlu dijaga dan dirawat, karena kecelakaan yang disebabkan karena tidak terpenuhinya persyaratan teknis dan laik jalan, seperti rem blong atau tidak berfungsinya komponen lain, termasuk pelanggaran lalu lintas.

Kerusakan yang dialami motor milik AH, seorang pengendara yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (14/2/2021) pagi.(istimewa/unggahan akun Twitter @TMCPoldaMetro) Kerusakan yang dialami motor milik AH, seorang pengendara yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (14/2/2021) pagi.

Pelanggaran tersebut sudah diatur dalam UU LLAJ Pasal 285. Pelanggarnya akan dikenakan sanksi kurungan paling lama satu bulan penjara atau denda paling banyak Rp 250.000.

"Mengendarai kendaraan bermotor dengan mengesampingkan titik kerawanan jalan dan faktor lingkungan hujan, dan sebagainya juga merupakan pelanggaran lalu lintas. Misal, melebihi batas kecepatan, tidak konsentrasi, perlengkapan kendaraan tidak berfungsi saat hujan, dan lainnya," kata Budiyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.