Jangan Sembarangan, Perhatikan Ini Saat Modifikasi Knalpot Mobil

Kompas.com - 29/06/2021, 18:31 WIB
Knalpot ganda Mazda CX-3 KOMPAS.com/DIO DANANJAYAKnalpot ganda Mazda CX-3
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Melakukan perubahan atau modifikasi pada bagian knalpot mobil kini semakin populer. Terlebih, pilihannya sangat beragam serta cukup mudah diaplikasikan.

Hanya saja, ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebelum pemilik melakukan tindakan tersebut. Salah satunya, mengetahui ukuran pipa knalpot yang ideal.

Dikatakan Nur Imansyah Tara, Aftersales Division Head Auto2000, ukuran pipa knalpot yang direkomendasikan ialah berdiameter 2 inci untuk mobil berkapasitas 1.000 cc - 1.500 cc.

Baca juga: Ini Penyebab Spion Elektrik Mengalami Masalah

Ilustrasi asap putih keluar dari knalpot mobilFoto: Paulan.org Ilustrasi asap putih keluar dari knalpot mobil

"Lalu, jika kapasitas mesin sekitar 1.500 cc hingga 2.000 cc, maka bisa menggunakan pipa knalpot diameter 2,5 inci. Begitu juga untuk perbandingan kapasitas mesin dan diameter yang lebih tinggi lagi," kata dia dalam keterangannya, Selasa (29/5/2021).

Bila kisaran kebutuhan ukuran knalpot sudah diketahui, sesuaikan lagi antara letak mesin, karburator, intake manifold, dan tempat masuknya bahan bakar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Selain itu, jangan lupa untuk menyesuaikan resonator, header, serta muffler dengan ukuran pipa knalpot. Pilih pipa dengan lekukan bulat dan baik agar sisa gas buang mampu mengalir secara lancar," lanjut dia.

Untuk diketahui, header adalah saluran buang gas yang merupakan hasil sisa pembakaran dari bagian blok mesin. Konfigurasi header biasanya 4-2-1 atau 4-1.

Dengan konfigurasi 4-2-1, artinya gas buang dari blok mesin disalurkan ke empat saluran, baru dipindahkan ke dua saluran, dan berakhir di satu saluran.

Untuk konfigurasi 4-1, gas sisa pembakaran disalurkan melalui empat saluran, lalu langsung berakhir di satu saluran. Jika ingin mengganti knalpot, pemilik harus memastikan konfigurasi header ini sama dengan bawaan pabrik. 

Baca juga: Biar Tidak Salah, Begini Cara Menghitung Pajak Kendaraan Bermotor

Suasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Suasana pembuatan knalpot di salah satu rumah produksi di Jalan Kiswadi Desa Pesayangan Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017). Desa ini disebut desa knalpot karena sejumlah warganya memproduksi knalpot mobil dan motor.

"Pemilik juga harus menyesuaikan pipa knalpot mobil dengan tipe transmisi kendaraan yang digunakan. Bila manual, pastikan header, mufflet, dan resonator memiliki ukuran, sambungan, serta desain yang tepat," ujar Imansyah.

Alasan utamanya, dalam mobil transmisi manual, ketika ganti posisi gigi lalu pedal gas diinjak, di sanalah semburan gas dari blok mesin menjadi meningkat.

Aliran gas memang membutuhkan pengelolaan yang tepat untuk memberikan efek tekanan balik ke ruang bakar dengan tepat serta mampu terbuang secara teratur.

"Jika mobilnya transmisi otomatis, tdak perlu kebingungan. Cukup ganti header sesuai desain bawaan dan diameter pipa tidak terlalu besar. Jika diameter pipa terlalu besar, maka itu sama dengan knalpot free flow sehingga menjadi lebih boros," ujar dia lagi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X