Ternyata Perusahaan Truk dan Bus Kerap Asal Beli Kendaraan

Kompas.com - 22/06/2021, 09:02 WIB
Sebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020) Dok Sudin Gulkarmat Jakarta TimurSebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi angkutan truk dan bus di Indonesia saat ini memang sedang berkembang. Banyak truk atau bus yang modern mulai memenuhi jalan raya, selain terpicu infrastruktur jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatera.

Namun, kejadian seperti truk atau bus yang terbakar juga sering terjadi. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya korsleting pada sistem kelistrikan kendaraan yang menyebabkan percikan api lalu membesar.

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi Ahmad Wildan berbagi cerita mengenai kasus truk atau bus terbakar yang pernah diinvestigasi. Ketika ada truk atau bus yang terbakar, Wildan sering bertanya mengenai perawatan armada kepada mekanik.

Baca juga: PO SAN Punya Trayek Terjauh di Indonesia dengan Bus Tronton

Petugas berhasil memadamkan api yang membakar truk di tepi jalan tol.Dok. Damkar Pemkab Gresik Petugas berhasil memadamkan api yang membakar truk di tepi jalan tol.

“Ketika ditanya ketika merawat kendaraan, soal ganti kabel, kabel apa yang digunakan. Mereka hanya menjawab yang bagus dalam artian paling mahal. Ketika ditanya yang mahal seperti apa, mereka mulai bingung,” ucap Wildan dalam diskusi online, belum lama ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ternyata, para mekanik tidak tahu kalau kabel berbeda-beda, disesuaikan dengan penempatannya. Misal kabel untuk di tempat panas itu berbeda dengan yang biasa, begitu juga dengan ukuran kabel yang tidak dipahami para mekanik.

“Kalau salah pasang ukuran kabel, dilewati arus yang besar, malah bisa terbakar. Ini sama saja dengan merawat dalam kondisi buta,” kata Wildan.

Baca juga: Kembali Diperpanjang, Begini Aturan Berkendara Selama PPKM Mikro

Wildan mengatakan, untuk mencegah hal tersebut, ketika pertama beli kendaraan, minta yang namanya manual kelistrikan. Jika sudah meminta manual kelistrikan, pastikan para mekanik paham apa yang ada pada manual tersebut.

“Kalau tidak paham, lakukan pelatihan dengan pembuat kendaraan. Kalau paham, jadikan manual tadi sebagai prosedur perawatan yang nantinya dilakukan kegiatan sehari-hari untuk merawat,” ucapnya.

Wildan mengatakan, hal ini banyak terjadi di perusahaan truk dan bus yang main beli kendaraan. Tetapi setelah beli, tidak minta manual kendaraan dan kelistrikan, lalu mekaniknya asal memperbaiki saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.