Bukan Dongeng, Pabrik Baterai Mobil Listrik LG Dibangun di Indonesia Juli 2021

Kompas.com - 20/06/2021, 11:01 WIB
Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi SHUTTERSTOCK/ROMAN ZAIETSIlustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pembangunan pabrik baterai kendaraan bermotor listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG, bukan hanya dongeng belaka.

Bahkan ia menyatakan pabrik yang akan dibangun di Kota Deltamas, Karawang, Jawa Barat tersebut siap untuk mulai masuk tahap awal pada Juli 2021 mendatang.

"LG mulai groundbreaking akhir Juli ini, paling lambat Agustus awal. Ini bukan cerita dongeng, sudah kita lakukan," katanya dalam rapat korodinasi nasional dengan HIPMI, Sabtu (19/6/2021).

Baca juga: Simak, Ini Plus-Minus Mobil Transmisi Matik dan Manual

Ilustrasi baterai mobil listrik LG Chemhttps://www.caixinglobal.com/ Ilustrasi baterai mobil listrik LG Chem

Bahlil mengatakan, rencananya pada pembangunan tahap pertama, pabrik bakal memiliki kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWh). Baterai ini nanti digunakan untuk kendaraan listrik dari Hyundai.

Kemudian, pabrik juga akan menjadi yang pertama di Asia, bahkan di dunia dengan perkiraan nilai investasi 9,8 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 142 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebab, pabrik tidak hanya memiliki fasilitas produksi baterai tapi juga aspek terkait dan terintegrasi lainnya, seperti fasilitas untuk penambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining), serta industri precursor dan katoda.

"Ini investasi terbesar pasca-reformasi, baru kali ini masuk dan benar-benar masuk," ucap Bahlil.

Baca juga: Gesits Harap Indonesia Segera Bikin Baterai Kendaraan Listrik

 

Ilustrasi stasiun penukaran baterai motor listrikDok. Nikkei Asia Ilustrasi stasiun penukaran baterai motor listrik

Adapun bahan-bahan untuk pembuatan baterai mobil listrik, lanjut dia, 50 persen ada Indonesia, terutama nikel. Pemerintah pun telah melarang ekspor nikel agar bisa menjadi menjadi produsen baterai terbesar di dunia.

"Kenapa Indonesia melarang ekspor nikel? Agar Indonesia menjadi produsen terbesar untuk baterai dunia. Jadi kita tidak boleh hanya menjadi ekspor-ekspor bahan baku terus," kata dia.

"50 persen kompenen dari baterai mobil listrik adalah baterai, dan baterai itu bahan bakunya paling besar itu adalah nikel dan 25 persen total cadangan dunia-nya ada di Indonesia," ujar Bahlil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.