Rencana Pengembangan Baterai untuk Kendaraan Listrik di Indonesia

Kompas.com - 26/05/2021, 09:02 WIB
Sistem penggerak mobil listrik murni (BEV) Lexus UX 300e. ToyotaSistem penggerak mobil listrik murni (BEV) Lexus UX 300e.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik atau Electric Vehicle (EV) Agus Tjahajana Wirakusumah menyatakan, telah selesai menyusun peta jalan produksi baterai di Indonesia.

Melalui diskusi secara daring bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) belum lama ini, Agus megatakan, telah menetapkan target pada 2030 baterai buatan dalam negeri tersebut sudah bisa digunakan.

"Sehingga kita bisa bersaing dengan negara lain. Kami harap tahun 2024 akhir sudah bisa terealisasi (pembuatan pabrik)," ucap Agus yang juga mantan pejabat eselon satu di Kementerian Perindustrian, dalam acara itu.

Baca juga: Pabrik Baterai di Indonesia Diklaim Siap Bangun 

Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasiSHUTTERSTOCK/ROMAN ZAIETS Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi

Agus yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Mining Industry Indonesia (Mind ID) merinci, pada 2024 diharapkan pembangunan pabrik dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HAPL) dapat diselesaikan.

Setelahnya, Indonesia akan melangkah lebih jauh dengan selesaikan pabrik prekusor dan katoda. Sehingga, satu tahun setelahnya bisa dilanjutkan dengan produksi cell to pack.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bila berjalan lancar, kita juga menargetkan penggunaan mobil listrik di Ibu Kota baru sudah pakai baterai dari kita. Tentu, kita pun tetap berharap di 2030 bisa menjual 230.000 baterai di kawasan ASEAN," ujar Agus.

Mengenai kapasitas pabriknya, ia belum bisa mengatakan secara pasti. Tapi, akan terus meningkat secara bertahap sejalan dengan permintaan pasar.

Baca juga: Industri Otomotif Jepang Terkesan Lamban Beralih ke Mobil Listrik

Ilustrasi mobil listrik Hyundai Kona EV tengah diisi ulang dayanya.UNPLASH.com Ilustrasi mobil listrik Hyundai Kona EV tengah diisi ulang dayanya.

"Karena memang pasar dalam negeri belum begitu besar, jadi kita harus melihat realita bahwa ini akan bertahap," lanjutnya.

Dalam kesempatan sama Agus juga mengatakan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam produksi baterai. Hal ini karena cadangan nikel yang dimiliki, yakni sekitar 30 persen di dunia.

Dari nikel itu diharapkan Indonesia mampu membuat baterai lithium ion dengan basis nikel. Ke depannya, menurut dia nikel akan tetap digunakan karena perubahan baterai dari liquid ke solid state.

"Inilah alasan kuat mengapa kita memilih industri berbasis nikel. Tapi kita juga harus ingat, masih ada negara lain sepeti Filipina, New Caledonia, serta Australia," ujar Agus.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X