Era Elektrifikasi, Indonesia Fokus Kembangkan Bus dan Motor Listrik

Kompas.com - 25/04/2021, 11:41 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik stanlyIlustrasi kendaraan listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) sebelumnya telah meresmikan program atau peta Prioritas Riset Nasional (PRN) untuk tahun 2020-2024 yang terdiri atas sembilan bidang.

Salah satunya adalah pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri sebagai upaya untuk menyiapkan diri menyambut era elektrifikasi.

Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan, pihaknya sedang mencoba untuk membuat kendaraan listrik secara utuh yang ditargetkan akan rampung dalam satu atau dua tahun mendatang.

Baca juga: Transaksi IIMS Hybrid 2021 Tembus Rp 1 Triliun

“Kalau dari peta riset nasional, kita sedang mencoba untuk membuat suatu kendaraan listrik secara utuh. Jadi kita tidak hanya fokus di baterai, tetapi juga fokus pada misalnya sistem pengendali kendaraan, motornya, sampai kepada kualitas pengisian daya,” ujar Bambang saat ditemui Kompas.com di pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021, Sabtu (24/4/2021).

Bambang melanjutkan, untuk saat ini pihaknya akan berfokus pada bus, baik ukuran besar maupun sedang dan sepeda motor.

Menteri Ristek Dikti Bambang Brodjonegoro saat memberikan kata sambutannya di Electrick Vehicles Indonesia Forum & ExhibitionDoc. Menristekti Menteri Ristek Dikti Bambang Brodjonegoro saat memberikan kata sambutannya di Electrick Vehicles Indonesia Forum & Exhibition

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kita harapkan sudah bisa punya bus listrik yang memang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi yang terpenting dibuat di indonesia, serta sepeda motor. Keduanya kita prioritaskan melihat kendaraan itu bisa menarik minat banyak orang,” kata Bambang.

Bambang menambahkan, pada dasarnya Indonesia sudah memiliki kesiapan yang cukup baik menyambut era elektrifikasi.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan dari kendaraan motor listrik di Tanah Air. Seperti beberapa contoh motor listrik, di antaranya Gesit atau Viar, yang sudah siap digunakan.

Baca juga: KTM Rilis 890 Duke Tech 3 Edition, Cuma 100 Unit

“Sebenarnya kalau untuk sepeda motor sudah cukup maju. Namun, kalau untuk mobil (sedan) memang belum menjadi prioritas. Jadi publik melihatnya seolah-olah Indonesia tidak punya mobil listrik, padahal mobil listrik tidak harus sedan,” ucap Bambang.

Bambang pun berharap semoga nantinya kendaraan listrik di Indonesia benar-benar matang dan tahun depan sudah mulai produksi.

Penggunaan

Mobil listrik DFSK Gelora EKompas.com/Donny Mobil listrik DFSK Gelora E

Tren mobil listrik di Indonesi belum begitu berkembang. Padahal, pilihan kendaraannya sudah cukup banyak. Tak sedikit yang masih ragu untuk mengubah kebiasaan dari mobil konvensional ke mobil listrik. Padahal, jika dihitung, penggunaan kendaraan listrik jauh lebih hemat.

Pada mobil listrik, komponen penggeraknya lebih sedikit dan terbagi dari tiga unit, yaitu motor penggerak, baterai, dan sistem kelistrikan.

Jika dibandingkan dengan mobil konvensional, jumlah komponen mobil listrik hanya sepertiganya. Minimnya komponen membuat perawatan mobil listrik jauh lebih irit. Selain itu, biaya pengecasan atau isi ulang baterai yang memerlukan listrik disebut juga lebih murah daripada isi bensin.

Franz Wang, Direktur Pemasaran PT Sokonindo Automobile (DFSK), mengatakan, biaya daya listrik Gelora E hanya Rp 42 ribu untuk jarak tempuh 300 km.

"Karena tidak ada mesin dan hanya baterai, biaya perawatannya juga lebih hemat sekitar 30 persen jika dibandingkan mobil niaga ringan dengan mesin konvensional," ujar Franz, di sela-sela peluncuran Gelora E, di Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021, belum lama ini.

Jika dihitung secara rinci, untuk pembelian token listrik seharga Rp 100.000 akan mendapat sekitar 73 kWh. Sementara, mobil listrik sekarang rata-rata memiliki baterai dengan kapasitas 65 kWh atau di bawahnya.

PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) dan PT Lippo Malls Indonesia (LMI) melakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama untuk menyediakan fasilitas pengisian baterai mobil listrik dipusat perbelanjaan, Senin (12/4/2021).KOMPAS.com/Ruly PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) dan PT Lippo Malls Indonesia (LMI) melakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama untuk menyediakan fasilitas pengisian baterai mobil listrik dipusat perbelanjaan, Senin (12/4/2021).

 

Rata-rata mobil listrik juga memilik daya tempuh hingga 300 km dengan kondisi baterai penuh. Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, mengatakan, rata-rata mobil mesin bensin saat ini membutuhkan 1 liter bahan bakar minyak (BBM) untuk jarak tempuh 10 kilometer.

Sementara itu untuk jarak tempuh yang sama, mobil listrik hanya memperlukan daya listrik sebesar 2 kilo watt hour kWh.

Bila dihitung biaya listrik dengan tarif PLN sebesar Rp 1.467 per kWh, maka mobil listrik hanya membutuhkan biaya listrik sebesar Rp 2.934 per 10 km.

"Satu kWh listrik, kalau rumah tangga Rp 1.467. Kali dua kurang lebih Rp 3.000. Jadi kalau pakai mobil bensin 10 km biayanya Rp 9.500, kalau pakai listrik Rp 3.000," ujar Darmawan, kepada wartawan, beberapa waktu lalu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X