5 Tantangan Nyata Bagi BEV Bisa Bergulir di Indonesia

Kompas.com - 27/11/2020, 07:02 WIB
Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e. ToyotaSasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada sejumlah hal mendasar yang membuat kendaraan listrik atau batery electric vehicle (BEV) baik dalam wujud mobil, motor, atau kendaraan niaga bisa diterima pasar atau tidak. Jika faktor-faktor ini belum teratasi, operasional kendaraan listrik masih terhambat dan menjadi tantangan tersendiri.

Hari Setiapraja, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan, hal pertama yang harus dipastikan adalah kecukupan suplai listrik.

“Suplai listrik sangat menentukan, karena kendaraan listrik akan bergantung pada daya listrik yang mudah diakses,” ucap Hari, dalam webinar (26/11/2020).

Baca juga: Nissan Terra Facelift Meluncur, Siap Tantang Fortuner dan Pajero Sport

WIMA buka flagship store Gesits di Cawang, Jakarta Timur.                   Foto: Istimewa WIMA buka flagship store Gesits di Cawang, Jakarta Timur.

Kedua, ketersediaan charging station yang masih terbatas dan belum memadai tentu menjadi tantangan bagi pemerintah.

“Salah satu yang membuat produsen mobil dan masyarakat meragukan mobil listrik adalah keberadaan stasiun charging. Saat ini di Indonesia masih terbatas, ini yang perlu dibangun pemerintah” ujar Hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketiga, teknologi baterai dengan densitas tenaga tinggi, cas cepat (fast charging), dan tahan lama. Dengan berjalannya waktu, diharapkan produsen baterai dapat menemukan teknologi baterai yang lebih baik dan murah.

Baca juga: Razia Batas Kecepatan Pakai Speed Gun di Tol Cipali

Ilustrasi SPKLUKOMPAS.com/Ruly Ilustrasi SPKLU

Keempat, pemerintah harus memiliki regulasi teknis dan keuangan yang diperlukan dalam pengembangan kendaraan listrik. Termasuk stimulus buat produsen dan konsumen.

“Jauh dari itu semua, tantangan lain adalah pengolahan limbah baterai dan sistem recycle,” kata Hari.

“Ini sudah mulai dirasakan di China. Hal tersebut harus dipikirkan oleh kita dari sekarang, apakah ada yang bisa dimanfaatkan kembali atau dimusnahkan di tempat aman agar tidak merusak lingkungan,” tuturnya.

Terakhir (kelima), kehadiran era mobil listrik harus berdampak pada industri komponen. Paling tidak tersedia industri komponen mobil listrik di dalam negeri agar dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan konten lokal.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.