Rencana Penghapusan Premium, Punya Dampak buat Angkutan Umum

Kompas.com - 19/11/2020, 08:22 WIB
Kondisi tepi jalan raya yang mengarah ke Pondok Labu dan Cinere dekat Stasiun MRT Lebak Bulus, dipenuhi oleh angkot yang mengetem. KOMPAS.com / VITORIO MANTALEANKondisi tepi jalan raya yang mengarah ke Pondok Labu dan Cinere dekat Stasiun MRT Lebak Bulus, dipenuhi oleh angkot yang mengetem.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah tampaknya telah memiliki wacana untuk penghapusan BBM jenis Premium. Hal ini terungkap setelah pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa BBM dengan RON 88 itu akan dihapus mulai 1 Januari 2021.

MR Karliansyah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, berujar jika BBM jenis Premium akan dihilangkan di area Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

“Syukur alhamdulillah pada Senin lalu, saya bertemu dengan Direktur Operasional Pertamina, beliau menyampaikan per 1 Januari 2021, Premium di Jamali khususnya akan dihilangkan,” ucap Karliansyah, dalam diskusi virtual (13/11/2020).

Baca juga: Setelah Tesla, LG Chem Siap Tanda Tangan dengan Indonesia

Suzuki donasikan hand sanitizer dan masker untuk sopir angkotSIS Suzuki donasikan hand sanitizer dan masker untuk sopir angkot

Menanggapi rencana tersebut, Organisasi Angkutan Darat ( Organda) berpendapat jika rencana tersebut berhasil dilakukan maka bakal ada efek domino bagi kendaraan umum.

“Selisih harga dari Premium ke Pertalite akan menambah biaya operasional,” ucap Kurnia Lesani Adnan, Ketua Bidang Angkutan Penumpang Organda, kepada Kompas.com (17/11/2020).

Secara pribadi, pria yang akrab disapa Sani itu mendukung kebijakan pemerintah untuk memperbaiki kualitas lingkungan dengan menghapus BBM jenis Premium.

Baca juga: Honda Pamerkan Wujud Civic Generasi Ke-11

Ribuan Angkot Jak Lingko mendapat penyemprotan disinfektanPT SIS Ribuan Angkot Jak Lingko mendapat penyemprotan disinfektan

Meski begitu, dengan menghilangnya Premium bakal ada kenaikan biaya operasional angkutan umum, terutama buat kendaraan yang masih menggunakan Premium.

Hal inilah yang akan berdampak pada kenaikan tarif angkutan umum, yang dikhawatirkan bisa membebankan pada penumpang.

Menurutnya, Pertamina harusnya bisa memberikan penyesuaian harga terhadap BBM jenis lain. Misalkan penyesuaian harga Pertalite, sebagai BBM dengan angka oktan yang lebih tepat ketimbang Premium.

Baca juga: Mengenal Sistem Commonrail pada Mesin Diesel

Pekerja menggunakan masker saat memasuki angkutan umum di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2020). PSBB kembali diterapkan tanggal 14 September 2020, berbagai aktivitas kembali dibatasi yakni aktivitas perkantoran, usaha, transportasi, hingga fasilitas umum.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pekerja menggunakan masker saat memasuki angkutan umum di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2020). PSBB kembali diterapkan tanggal 14 September 2020, berbagai aktivitas kembali dibatasi yakni aktivitas perkantoran, usaha, transportasi, hingga fasilitas umum.

Di samping itu, Sani berharap kepada pemerintah agar dapat membantu menekan kenaikan biaya operasional angkutan umum. Misalnya dengan memberikan pembebasan pajak kendaraan bermotor dan biaya uji KIR.

“Prinsipnya kalau memang Premium mau dihapuskan silakan saja. Namun mungkin akan ada implikasi terhadap masyarakat sebagai pengguna,” kata Sani.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X