Jumlah Korban Meninggal Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Semakin Tinggi

Kompas.com - 30/09/2020, 07:12 WIB
Lalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOLalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks kecelakaan lalu lintas (lalin) Indonesia makin hari semakin tinggi. Data ini terlihat pada naiknya fatalitas kecelakaan lalin sebesar 33 persen menjadi 12,4 pada 2018, dibandingkan 2009 yang hanya 8,6.

Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) mengatakan, merujuk data Korlantas Mabes Polri dan Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir jumlah orang meninggal akibat kecelakaan lalin meningkat.

Baca juga: Hindari Tiga Tipe Human Error Ini yang Bisa Menyebabkan Kecelakaan

Pada 2018, dari 100 ribu penduduk ada 12 orang meninggal akibat kecelakaan. Lebih tinggi dari 2009 yang mana dari 100 ribu penduduk hanya sembilan orang meninggal akibat kecelakaan.

Anggota Kepolisian saat sosialiasi ETLE di titik nol Yogyakarta, Rabu (12/8/2020)Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo Anggota Kepolisian saat sosialiasi ETLE di titik nol Yogyakarta, Rabu (12/8/2020)

"Namun, dari sisi kasus, terjadi penurunan 22,2 persen menjadi 7,4 dari sebelumnya 9,3. Artinya, dari 10 ribu kendaraan ada sembilan kecelakaan pada 2019, sedangkan 2018 hanya tujuh kendaraan," ujar edo dalam diskusi virtual 75 Tahun RI, Sudahkan Kita Merdeka di Jalan Raya, Selasa (29/9/2020).

Edo menilai, dari data itu bisa disimpulkan, fatalitas meningkat setelah UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) berlaku. Padahal di satu sisi UU tersebut dibuat untuk menekan kecelakaan.

Edo mengatakan, hal ini harusnya menjadi perhatian semua pihak, termasuk industri otomotif selaku pemasok kendaraan. Sebab di dunia, kecelakaan lalu lintas lebih mematikan dibandingkan kejadian lain.

Sebuah truk yang dikendarai oleh Ahmad Nurvendi terbalik karena diduga hilang kendali akibat ban belakang pecah. Kecelakaan itu terjadi di depan  Plaza Serpong Jalan Raya Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (26/9/2020) siang.dokumentasi Satlantas Polres Tangsel Sebuah truk yang dikendarai oleh Ahmad Nurvendi terbalik karena diduga hilang kendali akibat ban belakang pecah. Kecelakaan itu terjadi di depan Plaza Serpong Jalan Raya Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (26/9/2020) siang.

"Di dunia, kecelakaan lalin 357 kali lebih mematikan dibandingkan kalajengking. Atau 21 kali lebih mematikan dibandingkan digigit ular," katanya.

Baca juga: Catat, Kecelakaan di Jalan Raya Bukanlah Tontonan!

Bukan hanya soal nyawa, Edo mengatakan, kecelaaan juga menyebabkan kemiskinan.

Berdasarkan penelitian Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Polri, 62,5 persen keluarga korban meninggal dunia jatuh miskin, sedangkan 13 persen keluarga korban luka berat miskin, 7 persen dapat pulih, dan 67 persen tingkat kesejahteraannya turun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X