Bahaya, Ini Alasan Tidak Boleh Menyalip di Tikungan

Kompas.com - 27/08/2020, 08:12 WIB
Jalan berliku dan mendaki dengan aspal mulus menghitam menemani perjalanan turing PT Piaggio Indonesia menjelajahi Pulau Lombok selama tiga hari, sejauh lebih dari 300 kilometer. DOKUMENTASI PT Piaggio IndonesiaJalan berliku dan mendaki dengan aspal mulus menghitam menemani perjalanan turing PT Piaggio Indonesia menjelajahi Pulau Lombok selama tiga hari, sejauh lebih dari 300 kilometer.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Selain diimbau untuk tidak menyalip lewat sebelah kiri, pengemudi juga dilarang untuk tidak menyusul kendaraan saat berada di jalan menikung. Seperti misalnya di jalur pegunungan yang berliku-liku, pengendara diimbau untuk mengikuti garis marka.

Biasanya karena terpacu adrenalin, pengemudi cenderung memacu kendaraan dengan cepat, terutama di jalur menurun.

Apalagi buat pengendara sepeda motor, jalur berliku di pegunungan menjadi tujuan saat touring ataupun sunmori.

Baca juga: Bus Tronton Bermanuver dengan Ban Belakang Ikut Berputar

Tim Survei Mudik Gesit 2019 ketika berada di jalur lintas selatan yang berada di wilayah kabupaten Pacitan Jawa Timur, dengan latar belakang potensi wisata pantai, beberapa waktu lalu.Tim Survei Mudik Gesit 2019 Tim Survei Mudik Gesit 2019 ketika berada di jalur lintas selatan yang berada di wilayah kabupaten Pacitan Jawa Timur, dengan latar belakang potensi wisata pantai, beberapa waktu lalu.

Namun patut diingat, jalan umum bukanlah sirkuit balap. Sehingga pengemudi harus mengetahui batasan kecepatan yang dianjurkan.

Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan, sudah banyak kecelakaan yang terjadi di jalan menikung.

“Jelas berbahaya, karena di tikungan blindspot-nya besar dan mengontrol kendaraanya lebih sulit,” ucap Sony, kepada Kompas.com (26/8/2020).

Baca juga: Ingat, Masa Berlaku SIM Kini Bukan Berdasarkan Tanggal Lahir Lagi

Jalan berliku, menanjak, dan menurun bisa dilewati tanpa kendalaKompasOtomotif Jalan berliku, menanjak, dan menurun bisa dilewati tanpa kendala

Sementara itu, menurut Training Director The Real Driving Centre (RDC) Marcell Kurniawan, mengatakan, di jalur pegunungan biasanya banyak terpasang rambu rawan kecelakaan.

“Sebab kita dan pengemudi lain dari arah berlawanan sama-sama tidak dapat melihat saat di tikungan," kata Marcell, kepada Kompas.com pada kesempatan yang sama.

"Dan bisa bertemu tiba-tiba di tengah tikungan, sehingga bisa adu kambing,” tuturnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X