Hand Sanitizer Saja Bisa Jadi Beban Baru Industri Otomotif

Kompas.com - 02/07/2020, 08:02 WIB
Lini produksi Mini Countryman di pabrik perakitan Sunter Kompas.com/Setyo AdiLini produksi Mini Countryman di pabrik perakitan Sunter

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri otomotif nasional diprediksi bakal menghadapi tantangan baru usai melewati fase transisi untuk menuju kenormalan baru alias new normal di Tanah Air.

Sekertaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo) Kukuh Kumara menyatakan, salah satunya ialah terkait kesiapan industri komponen dalam negeri dalam memenuhi lonjakkan permintaan.

"Kesiapan mereka tidak sama dengan produsen atau manufaktur setelah mendapat pukulan keras selama pembatasan aktivitas kemarin. Sebab, dalam segi modal mereka lebih rentan (modalnya sedikit)," katanya saat dihubungi Kompas.com belum lama ini.

Baca juga: Industri Otomotif Terancam Syok Suplai

Pabrik Perakitan UD Trucks Pertama di IndonesiaAditya Maulana - KompasOtomotif Pabrik Perakitan UD Trucks Pertama di Indonesia

"Belum lagi saat aktivitas bisnis dimulai, ada penyesuaian prosedur seperti membatasi jumlah orang dan physical distancing. Jadi pemulihannya cenderung lambat bila tidak ada stimulus dari pemerintah," lanjut Kukuh.

Kemudian, industri komponen lokal ini harus menyediakan alat-alat pemeriksaan atau pencegahan penyebaran virus corona (Covid-19) di kantor atau pabriknya.

"Perlengkapan paling sederhananya adalah hand sanitizer, otomatis mereka keluar biaya lagi, modalnya berkurang. Cash flow ini yang perlu diperhatikan. Sangat kompleks bila berbicara tentang industri otomotif, tak hanya dari sisi pabrikan dan manufakturnya saja," katanya lagi.

Senada dengannya, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia ( TMMIN) Warih Andang Tjahjono menyatakan bahwa kondisi tersebut berpotensi membuat terjadinya syok suplai (supply shock) pada manufaktur otomotif di Indonesia.

Baca juga: Toyota Akui Ekspor Mobil Tahun Ini Bakal Berat

Toyota bakal bangun pabrik perakitan baru di MeksikoLeftlanenews Toyota bakal bangun pabrik perakitan baru di Meksiko

"Berdasarkan pengalaman, ketika situasi sudah normal maka penjualan akan meningkat dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya. Sementara supply masih berangsur pulih karena ada hambatan modal kerja, cash flow, hingga pasokkan komponen impor," katanya dalam diskusi virtual terbatas beberapa waktu lalu.

"Oleh sebab itu, kita sedang melakukan komunikasi dengan para pemasok, khususnya di tier 2, untuk mempersiapkan permintaan yang bakal melonjak ini," lanjut Warih.

Lalu masalah lainnya terdapat pada ruang gerak karyawan yang sangat terbatas, harus selalu menyediakan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) dan dokumen pendukung sejenis ketika hendak berangkat dan pulang kerja.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X